Ada Takdir Dibalik Daun yang Berguguran (Narasi Hati)

Ada Takdir Dibalik Daun yang Berguguran
Tulisan ini aku buat pas aku lagi nggak bisa tidur dears. Nggak tau kenapa tiba-tiba aku keingat gitu sama perkataan seseorang dan beberapa orang lainnya yang agak menyentil area privasiku. Yaaaa mau gimana lagilah, sebaik apapun kita bangkit dari lubang keterpurukan, di masadepan pun pastinya kita harus siap dihadapkan pada sisa-sisa tapak keterpurukan kita. Terutama pada cerita masalalu yang sudah kita tutup rapat-rapat. Yaaaaaa, katanya Mbak Luna Maya Tutup Buku, alias sudah nggak ada urusan lagi sama yang namanya Masalalu. 

Tapii sayang, orang-orang sekitar kita terkadang tuh masih suka membahas dan menyangkutpautkan apa yang terjadi di masalalu dengan kehidupan yang terjadi di masa depan. Dan hebatnyaaaa, kenapa berita buruk itu cepat sekali menyebar??? Huuuuuaaaaaa (nangis kejer). Maafin mimin ya gaes, mimin nggak ngajakin kalian ghibah kok. Mimin cuma curhat aja, berbagi informasi hasil ghibahan sama beberapa orang berbeda. Yaaaa kalo saja berdosa, mimin bagi sama kalian dosanya. Hahahahaa. Ketawa jahat.

Oh yaa, sebelum membaca ocehanku dibawah ini, sempatkan dulu lah membaca narasi kalimat singkat untuk masalalu akkuh. Hehehe. Yukkk, cuuuusssss, klik link dibawah ini: Surat Balasan Untuk Masalaluku ~~~ sebenarnya iseng sih bikin tulisan itu. Keisengan hasil panggilan jiwa yang meronta-ronta ingin diungkapkan. Hehehee. Selain iseng, itu juga buat antisipasi ngasih jawaban ke mantan kalo tiba-tiba suatu hari mantan minta maaf gitu ke akika. Ehhhh ngarep, tapiii right, pada suatu ketika, mantan akhirnya minta maaf sungguhan loo. Dan dengan PD-nya langsung aku kirim aja link tulisan itu. Bye Bye Masalalu.

Jadi, cerita ini aku mulai dari percakapan aku sama teman gitu ya. Dan hampir semua orang itu membahas ini semua ke aku. Plisss deh. Sebenarnya sih mau nolak dengerin, tapi kalo nggak dengerin ya penasaran. Gimana? kan jadi bimbang akika. Terpaksa deh mimin dengerin, meskipun akhirnya berbuntut Ghibah Berjamaah. Hehehee.

Kala itu, di suatu malam, di rumah salah satu teman: "Heh mbak, Si A ternyata begini looo (aku cuma bisa bilang "begini lo" karena isinya berita buruk ya gaes, maaf nggak bisa mengumbar aib secara frontal). SKamu udah tahu belum?"
Aku: "Udah kok"
Dia jawab: "Kamu seharuse ngetawain dia dan hidupnya, kamu berhak ketawa lo."
Aku: "Sayangnya sama ibuku nggak boleh ngetawain kesusahan orang."
(Yaaa sekali lagi jawabanku menunjukkan bahwa aku adalah anak emak bapak yg sangat mematuhi nasehatnya).
.
Dan nggak tau kelanjutannya dia ngomong apa lagi, soalnya aku nggak memperhatikan. Lagi fokus corat-coret wajah.

Intinya,,, aku tuh turut prihatin kok. Tapi  sempet kepikiran juga sih, masa iya perjuangannya segitu doang, dibelain pernah maki-maki aku lagi. Hahahaa. Lhoh,,, kok ketawa. Astagaa. Maaf kelepasan ketawa, nggak niat ngetawain loo. (Ngetawain diriku sendiri yang pernah dicaci maki).

Cuma keingat aja, INI AKU, perempuan yang dulu pernah di maki habis-habisan, seolah tidak ada satu hal baik dari diriku, yaaa kalii endingnya yg maki-maki aku begini amat? Nggak asikkk ihhh. Padahal ak pengen denger cerita Happy Ending.  Tanpa dibumbui embel embel KARMA di belakangnya. Setiap orang yg tahu sekelumit kisah ini, mungkin memiliki pemikiran yg sama (berlaku untuk mereka, tapi tidak berlaku untukku). 

Kebanyakan mereka bilang: Ini KARMA nih. Dan dengan polosnya diriku cuma bisa HEHEHIHI aja, bingung juga mau nanggepin gimana. Yang pasti aku tu tidak pernah membenci apalagi sampai mendoakan yg terburuk. Karna aku sangat paham, bahwa doa baik atau buruk yang kita panjatkan kepada orang lain akan berbalik kepada diri kita sendiri.

Nah dengan adanya kejadian ini, yang didengungkan terus menerus oleh beberapa orang, membuatku mau tak maupun ikut membahasnya  bersama emak bapak (sekali lagi karna aku anak emak bapak nih, hahhaa). Tanggapan emak bapak sih masih datar aja: Yaa biarlah,  itu menjadi urusan mereka. Doakan yg terbaik aja. (Versi bahasa indonesia, jawaban asli menggunakan "Basa Jawa").
Duhhhh, siapapun tolong, sisi kekejamanku pun tak mampu menggeliat ketika emak bapak mengajakku menjadi malaikat tanpa sayap. Emak Bapak yang mendidikku tidak menjadi pendendam dan tidak menjadi pembenci.

Jadiii, sebenarnya aku pikir tulisan ini nggak perlu dan nggak penting sih. Tapi aku hanya ingin berbagi bentuk responku terhadap beberapa orang yang membahas tentang suatu bahasan dengan tema yang sama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.

Tuhan itu adil seadil-adilnya.

Emang benar, seribu kalipun kita berbuat kebaikan, orang masih saja mencari-cari kesalahan kita. 
Yang pasti tetap sabar aja sih menghadapi segala makian dan hinaa dari orang yang pura-pura kenal dengan diri kita sebenarnya.

Dan point paling penting, tetaplah jaga kedekatan dengan orang tua serta kembalikan semua kepada Pencipta. Biar Tuhan Yang Maha Kuasa yang berbicara. Kita Mah apa atuh, hanya butiran debu yang nggak berhak menghakimi orang lain apalagi sampe memakinya.
Kalo Tuhan sudah berkehendak, kita bisa apa coba??? 
Cukup guru aja yang memberi nilai, kita sebagai orang awam jangan.!

Belum ada Komentar untuk "Ada Takdir Dibalik Daun yang Berguguran (Narasi Hati)"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel