Sabtu, 25 Agustus 2018

REVIEW: Film KAFIR Bersekutu Dengan Setan

Review Film Kafir
Film Kafir
Film KAFIR- Holla Riders Blog Tri Wahyuni, ada yang suka nonton nggak nih? Suka sama film bergenre apa? Kalau mince sih suka sama film bergenre apapun ya, tergantung suasana hati aja. Heuheu. Tapi akhir-akhir ini mince lagi keranjingan sama Film Horor Indonesia nih. Dalam waktu dekat ini aja udah 2 kali nonton film bergenre Horor. Tapi nggak semua Film Horor masuk menjadi kategori film incaran saya, tetap pilih - pilih lah ketika menentukan film horor yang mau saya tonton. Seperti bulan lalu, saya sempatkan nonton Film Rasuk yang kemudian juga saya review. Mau tau bagaimana REVIEW Film Rasuk versi mince? Penasaran kan sama ceritanya? Klik link dibawah ini.
REVIEW: Film RASUK (Kecemburuan dan Kebencian berlebihan yang menyesatkan)
Lalu kali ini saya ingin mereview Film Kafir Bersekutu Dengan Setan yang salah satunya dilakonkan oleh Seniman sekaligus aktor idolah saya yaitu Mbah Sujiwo Tejo, yang berperan sebagai Jarwo si embah dukun kampung, Putri Ayudia sebagai Sri, Teddy Syah sebagai Herman, Rangga Azof sebagai Andi, Nadya Arina sebagai Dina adik Andi, Si Cantik Indah Permatasari sebagai Hanum yang ternyata tidak disangka sangka wajah baiknya justru menutupi perannya sebagai tokoh antagonis. Heuheu. Dan Tokoh Antagonis utama dalam film kafir ini adalah Nova Eliza yang berperan sebagai Laila ibunya Si Cantik Hanum.
Review Film Kafir
Potret keluarga
Review Film Kafir
Kejadian tidak terduga
Oke, pembuka dari film kafir ini menyajikan sebuah keluarga harmonis dalam suatu malam, dimana si bapak (Herman) sedang bermain piano menyanyikan lagu mawar berduri yang sudah di aransemen sebegitu rupa seakan mengajak para penonton untuk flashback pada era 90-an. Untuk memperkuat sisi keharmonisan keluarga, film kafir ini juga memanfaatkan diner table. Namun kejadian yang tidak pernah disangka terjadi ketika keluarga Herman melaksanakan makan malam. Tiba- tiba si bapak (Herman) tersedak kesakitan, muntah darah dan mengeluarkan beling dari mulutnya. Suasana suram pun seram mulai terasa. Apalagi disempurnakan dengan cuacanya yang sedang hujan badai disertai petir yang berkilat kilat, semakin membuat suasana kala itu sarat akan ketegangan.

Menurut saya, entah kenapa pada bagian awal film kafir ini membuat saya sekilas merasakan adanya unsur kemiripan dengan film pengabdi setan yang juga kebetulan saya tonton tahun lalu. Mungkin, hal ini disebabkan oleh efek setting waktu yang mengajak penonton untuk flashback pada tahun 90-an dengan menyertakan lagu lawas yang di aransemen. Selain setting waktu, setting tempatpun tidak luput dari perhatian saya, kedua film (film kafir dan film pengabdi setan) sama sama menggunakan rumah tua untuk menyempurnakan suasana keseraman. 

Lalu akhirnya untuk menjawab rasa penasaran akan perasaan saya, saya mencoba untuk googling dengan kata kunci "Film Kafir mirip Film Pengabdi Setan", rupanya mbah google-pun menjawab rasa kekepoan saya yang selalu tidak ada habisnya. Sebelum Film Kafir Bersekutu dengan setan ini rilis, beberapa artikel sudah mengulas tentang "Film Kafir dan Film Pengabdi Setan". Oke, jadi meskipun suasana yang diberikan oleh Film Kafir ini membuat saya teringat sama masalalu alias Film Pengabdi Setan, hal ini tidak membawa pengaruh besar hingga akhir cerita, mengingat jalan cerita antara kedua film ini berbeda. Wajar saja jika film horor Indonesia menggunakan setting waktu tempo dulu dan setting tempat rumah tua untuk memperkuat suasana keseraman, sah sah saja kan?

Setelah kematian misterius yang terjadi pada sang bapak, teror demi terorpun terjadi yang membuat psikis sang ibu (Sri) seperti terguncang. Bayangkan saja, suasana kesedihan akan kematian yang ibarat tanahnya saja belum kering alias masih merah, kemudian sang ibu mendapatkan serangan misterius yang seolah-olah hanya dianggap bentuk halusinasi ibu akibat kematian sang bapak oleh anak-anaknya. Seperti cermin yang sudah retak, dan dilempar batu oleh sosok misterius peneror keluarga itu, tetapi kita tidak tau siapa sosok misterius itu. Gila, benar benar gila, baru kali ini ketika menonton Film Horor Lokal, saya sulit menebak ceritanya, padahal biasanya saya udah persis seperti Si Embah Dukun Jarwo ini, bisa saja menebak cerita Film yang saya tontotn.
Review Film Kafir
Andi, Ibu, Dina, Dan Hanum
Pada pertengahan Film Kafir ini dimunculkan tokoh tokoh lain seperti tukang kebun yang terlihat kehororannya juga menurut saya (Orang pertama yang menjadi sasaran kecurigaan saya akan sosok misterius peneror keluarga Herman, dan ternyata meleset). Kedua,, dimunculkannya Sosok Si Embah Dukun Jarwo yang juga menjadi sasaran tebakan saya bahwa Embah Dukun ini yang melayangkan teror kepada keluarga Herman, meleset juga. Tebakan ketiga jatuh kepada Hanum (Pacar Andi yang dikenalkan kepada keluarganya setelah kematian Herman), saya ragu ragu sih menebak bahwa Hanum ini juga turut andil menjadi sosok misterius peneror mistis keluarga Herman, kalian bayangkan saja jika melihat wajah kalem Hanum, cantiknya, manisnya, lembutnya, anggunnya dan terlihat seperti perempuan baik - baik, nggak mungkin kan melakukan aksi kejahatan sekejam itu pada keluarga kekasihnya. Hahaa. Benar benar apresiasi luar biasa untuk penulis serta sutradara yang memilih tokoh dan alur dengan tepat, mengemas cerita yang mewujud pada kehidupan nyata bahwa JANGAN HANYA MELIHAT SESEORANG DARI COVERNYA SAJA. Heuheu. Sumpah, pelajaran pertama paling berharga dari film kafir ini menurut saya terletak pada sisi Hanum ini.
Review Film Kafir
Dina mencoba memecahkan misteri
Selanjutnya, karena rasa penasaran Dina (adik Andi) yang juga merasakan aura mistis meneror keluarga mereka terutama ibunya, diapun mencoba mengumpulkan kepingan puzle untuk menjawab rasa penasarannya. Apalagi ketika melihat sang ibu mengalami kejadian yang persis seperti dialami almarhum ayahnya, tersedak, muntah darah kemudian memuntahkan beling juga, rasa penasarannya bertambah besar meskipun tidak disambut baik oleh kakaknya (Andi). Diam diam Si Dina melakukan ekspedisi berbekal foto dan alamat rumah yang tertulis di belakang foto yang ia temukan. Lalu disisi lain, Si Ibu (Sri) mendatangi Embah Dukun Jarwo untuk menceritakan keanehan yang terjadi padanya serta keluarganya. (Nah, dari sini membuat saya semakin bertanya - tanya: "Sebenarnya siapa yang Kafir?").

Apalagi pada pertengahan film Kafir ini terdapat adegan dialog yang membuat Mbah Dukun Jarwo Berkata: "Apa yang membuatmu datang kesini setelah 20 tahun yang lalu Sri?" (Bagian inipun membuat saya sebagai penonton yang baperan tingkat tinggi teringat lagi kepada Film Pengabdi Setan, apakah Kafir yang dimaksud dalam Film ini adalah perwujudan sembah kepada Setan untuk mendapatkan anak seperti Pengabdi Setan yaa?). Oke, sekali lagi pemikiran dan tebakan saya SALAH BESAR. Hal ini dibuktikan dari jawaban Mbah Dukun Jarwo yang bilang kepada Sri bahwa keanehan yang terjadi pada keluarganya merupakan bentuk SANTET yang dilakukan oleh seseorang. Di bagian ini juga, Sri menyodorkan sebuah foto kepada Mbah Dukun Jarwo untuk melihat apakah orang didalam foto itu adalah pelakunya. Lalu tebak, bagaimana jawaban Mbah Dukun Jarwo? Benar, orang yang di foto tersebut merupakan pelaku teror mistis yang berupa SANTET pada keluarga Sri.
Review Film Kafir
Sri Melihat Jarwo Mati Terbakar
Kemudian, setelah Sri mendapatkan jawaban Mbah Dukun Jarwo bahwa teror mistis yang menimpanya adalah santet yang dilakukan oleh seseorang, hal itu membuat Sri geram, lalu ia meminta Mbah Dukun Jarwo untuk membalasnya. (Scene bagian ini benar benar membuat saya terbelalak karena terkejut, Oh My God Sriiiiii, kenapa kejahatan kau inginkan dibalas dengan kejahatan pula). Sebagai Dukun yang Profesional tentunya acara balas membalas bukanlah menjadi hal yang mengagetkan lagi buat Mbah Dukun Jarwo. Mbah Dukun Jarwopun mengiyakan permintaan Srii. Hal yang semakin mengejutkanpun terjadi, ternyata ilmu Mbah Dukun Jarwo tidak mampu menandingi ilmu santet lawan Srii, sehingga berdampak kerugian besar yang mempertaruhkan nyawa Mbah Jarwo melayang. Iyaaa, Mbah Jarwo Terbakar hidup hidup riders (Oh noooo, scene yang semakin membuat saya terbelalak sambil menutup mata dan mulut).
Review Film Kafir
Sri Berlarian setelah melihat
Jarwo Mati Terbakar
Sri syok melihat kejadian terbakarnya tubuh Mbah Dukun Jarwo hidup hidup didepan matanya. Kemudian iapun lari terbirit birit meninggalkan rumah Mbah Dukun Jarwo. Akhirnya dengan langkah gontai sampaiilah ia di rumah dan bertemu dengan Dina. Dina membersihkan baju ibunya itu lalu menyisir rambut ibunya (Adegan penyisiran rambut yang membuat saya kembali gagal move on sama Film Pengabdi Setan). Semakin hari tingkat depresinya Srii semakin menjadi-jadi, ia sudah persis seperti mayat hidup akibat ulahnya sendiri. Dan semakin hari pula Dina sudah menemukan kepingan puzle lalu menyusunnya, tinggal mengetahui jawaban atas apa yang telah terjadi pada ibunya. Dina pun dengan nekat mendatangi rumah Dukun yang kabarnya meninggal hidup hidup dan jenazahnya di tolak oleh warga kampung karena dianggap menjadi manusia Kafir yang sudah meresahkan orang lain selama hidupnya.

Pada Film Kafir ini saya sama sekali tidak menemukan sesosok hantu dengan dandanan hantu hantu khas Film Horor Indonesia, lalu kemunculannya ditandai dengan musik yang mengejutkan. Jadi sekali lagi, saya apresiasi untuk pembuatan film ini, dimana jalan ceritanya mengesampingkan efek kejut seperti Film Horor Indonesia pada umumnya, namun tetap membuat penonton tegang. Namun, satu hal yang menyita perhatian saya, mengapa intensitas hujan badai dan kilatan petir sangat mendominasi pada Film Kafir ini? Hmmmm, menurut saya hal ini membuat kesan kenaturalan Film Kafir menjadi terkikis. Seolah dibuat-buat untuk menciptakan efek menegangkan, lalu membuat penontonnya berimaginasi sendiri bahwa Hujan badai dan kilatan petir menjadi pertanda adanya masalah pada keluarga itu. Nggak asyik kan? Akhirnya kita bermain main pada imaginasi kita sendiri. Ohhhh, ataukah atmosfer yang dibuat menegangkan ini menjadi pengganti efek kejut yang dikesampingkan oleh penggarapnya?

Singkat cerita, ternyata sosok misterius peneror keluarga Herman dan Srii ini adalah Hanum dan ibunya (Laila). Jadi, Sri dan Laila ini adalah dua perempuan sahabat baik. Laila memiliki suami yang tampan, penyayang dan sangat disayanginya, ialah Herman. Ternyata diam-diam Srii mencintai Herman, kemudian menusuk Laila dari belakang, merebut Herman dari tangan Laila. Parahnya, Srii merebut Herman melalui bantuan pelet yang dikirimkan oleh Mbah Dukun Jarwo, ketika Laila sedang hamil tua. Tidak cukup merebut Herman saja, bahkan dengan tega Srii menginjak-injak harga diri Laila dengan menaburkan ratusan uang dikepala Laila. (Subhanalloh Srii, caramu menyakiti sahabatmu sungguh sangat sempurna. Bayangkan saja, bagaimana kalau kalian yang berada di posisi Laila, bisa saja melakukan hal yang lebih kejam dari Laila dong. Namun, sekali lagi, balas dendam bukanlah cara terbaik untuk membalas sakit hati, apalagi balas dendamnya terlalu ekstream. Kalau saya mah lebih memilih balas dendam dengan cara elegan, menjadi wanita sukses dalam segala hal misalnya. Aamiin. Heuheu).

Ending dari cerita ini, menurut saya "Nggak Banget" untuk menyempurnakan bagian awal dan pertengahan Film Kafir yang dari sudut pandang saya sudah sangat bagus. Terkesan konyol dan terlalu dibuat-buat. Terus, saya kurang menangkap sinkronasi antara judulnya KAFIR dengan isi cerita, heuheuu. Mungkin lebih pas lagi kalau judulnya SANTET yaa. Karena menurut saya, isi ceritanya lebih dominan ke dunia santet gituu. Overall, Film ini bukan sekedar Film Horor biasa, tidak mengecewakan dan saya lebih menyukai jalan cerita serta ending yang tidak menggantung dari film kafir ini yang digadang-gadang hampir mirip dengan Film Pengabdi Setan, meskipun penyelesain Film Kafir masih "Nggak Banget", tapi saya tetap Sukaaaaaa. Untuk penilaiannya, saya kasih nilai 8 dari 10.

Oke, sebagai penutup REVIEW: Film KAFIR Bersekutu Dengan Setan, seperti Revie-review saya sebelumnya, saya sisipkan statement sakti menurut saya pribadi, cekidot:
  1. Ketika Srii menebar uang diatas kepala Laila, terlihat kental kearoganan Sri bahwa uang bisa membeli segalanya termasuk CINTA. Oke, hari gini siapa sih yang nggak butuh uang. Uang bisa membahagiakan, juga bisa menghancurkan. Jadi gunakan sesuai porsinya saja lah. Nggak usah berlagak arogan menikung perempuan lain dengan merebut pendampingnya segala, ingat lo yaa, perempuan baik-baik nggak akan merebut pendamping orang lain. Nggak bisa cari yang lain apa? (Yess, author curhat, tenang Laila, dalam hal ini saya Tim Garis Kerasmu)
  2. Kejahatan dibalas dengan Kejahatan? FIX, nggak bakalan kelar. Kalaupun kelar itu hanya cerita di Film Film aja. Ataupun bisa juga kelar setelah mengorbankan seseorang. Lebih baik, ketika dijahati, pasang senyum terbaikmu, Balas dengan cara elegan. Meningkatkan kualitasmu dengan menekuni Hobbymu, menambah wawasanmu dengan mengeluti sesuatu yang mengedukasi, dan menjalani hari hari dengan berbagi. FIX, hidup akan terasa indah jika kita berbagi (Tapi bukan berbagi pendamping. Titik).
  3. Point terpenting: Segala sesuatu yang didapatkan dengan cara tidak halal dan tidak sportif tentunya menimbulkan ketidakbarokahan dalam hidup. Termasuk dalam hal mendapatkan pendamping. Yaaa, jadi siap siap saja Tuhan mengirimkan Karma TerbaikNYA. Karna yang menanam pasti akan menuai.
Sekian dulu yess REVIEW: Film KAFIR Bersekutu Dengan Setan dari author Blog Tri Wahyuni, kalau kalian punya Review lain, boleh dong ajakin saya ngrumpi berjamaah, tentunya kalian bisa menghubungi saya di alamat akun medsos yang tertera pada laman Contact saya. 


EmoticonEmoticon