Selasa, 14 Agustus 2018

Perjalanan Solo Jogja yang Mengistimewa

Keraton Solo
Perjalanan Solo Jogja yang Mengistimewa- Holla, dua minggu yang lalu kantor tempat kerja mince mengadakan piknik bersama ke Jogja. Pikniknya bukan piknik sembarangan, pikniknya para ibu ibu berkantong tebal yang menjadi pengabdi negara. Hehehe. Kami sebagai pengabdi negara sepakat, bahwa dengan melakukan piknik membuat produktivitas dalam bekerja semakin baik. Bayangin aja, para pengabdi negara tersebut bekerja full selama 7 hari, berangkat pukul 07.00 dan pulang pukul 12.00. Dengan berbagai tugas yang harus dilakukan dan perlu tanggung jawab ekstra, tentunya hal itu sangat menguras tenaga maupun pikiran, jadi menurut saya tidak ada yang salah dengan kegiatan piknik bersama semacam piknik yang dilakukan oleh pengabdi negara di kantor tempat saya bekerja.

Nah, jika kalian semua merasakan ada yang aneh dengan diri kalian seperti mudah panik, sering galau, gampang marah, baperan, mendadak suka nyinyirin orang lain, susah konsentrasi dan sakit-sakittan melulu, FIX ini merupakan salah satu gejala kurang piknik.! Daripada gejala gejala tersebut berlanjut dan menjadi gejala permanen, lebih baik segera berkemas dan tentukan destinasi mana yang tepat untuk menjadi tujuan piknik.

Akhirnya sekelompok pengabdi negara di kantor tempat saya mengabdi pun memutuskan untuk menjadikan Solo dan Jogja yang mengistimewa sebagai destinasi liburan tahun ini. Berhubung salah satu bapak pengabdi negara di kantor saya ada yang merangkap profesi menjadi pegiat touring, membuat rombongan kita semua tidak kebingungan dalam menentukan destinasi dan rute perjalanan. Sekali dayung, dua, tiga pulau terlampaui. Bukan hanya sekedar refreshing untuk menghilangkan penat karna pekerjaan yang menghantam setiap hari, di destinasi tujuan kita, kita bisa berbelanja apapun tergantung keinginan dan budget yang kita punya. Jadi riders penasaran dengan destinasi liburan kita atau tidak? Oke, simak paparan cerita saya dimulai dari awal keberangkatan hingga perjalanan pulang.

Perjalanan ini dimulai dari saya yang dijemput oleh sopir travel yang ternyata adalah teman SMP saya sendiri. Karena dianya sudah tau rumah saya, dia tidak kebingungan lagi dan langsung berhenti dirumah saya pada hari Jumat 3 Agustus 2018 jam 23.45. Waktu dimana enak-enaknya tidur, mengharuskan dia terjaga untuk mengantarkan rombongan piknik kita. Akhirnya, setelah melalui prosesi ampir-ampiran/ nyamperin di rumah para pengabdi negara masing masing kita sepakat berangkat pukul 01.00 waktu Indonesia bagian Tulungagung. Serombongan kala itu ada 14 orang beserta 1 sopir travel yang kece badai. Haha.

Rute perjalanan yang rombongan kita lalui melewati Ponorogo - Magetan - Karanganyar - Wonogiri - Solo - Jogja (Berangkat dari Kota Tulungagung, Jawa Timur). Nah, rute perjalanan panjang untuk Solo dan Jogja yang Mengistimewa ini memang sangat mengistimewa. Dari rute perjalanan yang kita lalui, banyak tempat wisata dan pemandangan memukau yang memanjakan mata. Saya rekomendasikan rute perjalanan ini bagi para riders yang ingin berjalan - jalan santai dan tidak terdesak waktu, karena dari rute perjalanan ini banyak sekali ditemukan tempat - tempat wisata baik buatan maupun alam yang dikelola oleh pemerintah setempat.

Kala itu, rombongan kita sampai di Magetan sudah memasuki waktu shubuh. Jadi kita beristirahat sejenak di suatu masjid, melangsungkan sholat shubuh, ganti kostum dan berdandan. Selesai dengan aktivitas tersebut, Perjalananpun dilanjutkan, selang beberapa menit kita ditakjubkan oleh suatu tempat wisata yang terdapat spot foto berjajar di sepanjang jalan naik, serta warung-warung yang sudah ramai oleh pengunjung. Namanya Telaga Wahyu. Telaga Wahyu ini terletak di Kabupaten Magetan. Dan sayang sekali saya tidak sempat mendokumentasikan karena rombongan kita hanya lewat saja. Tidak lama setelah Telaga Wahyu, kitapun melewati tempat wisata fenomenal dan andalan Kabupaten Magetan, yaitu Telaga Sarangan. Untuk dokumentasi, mohon maap mince tidak mendokumentasikan tempat wisata yang rombongan kita lewati sekilas. 

Tidak hanya Telaga Wahyu dan Telaga Sarangan yang menjadi daya tarik wisata di Kabupaten Magetan, namun ada juga Cafe unik yang menyediakan spot berfoto beraneka ragam dengan nuansa klasik di dalamnya.  Sunrise samar - samar ketika itu menambah cantiknya panorama sepanjang jalan yang disuguhkan. Sesampainya di Cemoro Sewu, Pos Registrasi untuk menuju puncak Gunung Lawu rombongan kita akhirnya berhenti sebentar dan cekrek-cekrek di depan neon box tulisan Cemoro Sewu. 
Cemorosewu
Puas berfoto tiga kali jepretan, rombongan kita meneruskan perjalanan hingga melewati gapura perbatasan provinsi Jawa Timur dan Jawa Tengah. Tidak jauh dari Pos Registrasi Cemoro Sewu, setelah gerbang perbatasan, kita menemukan tempat wisata buatan yang bernama Bukit Sakura Lawu. Usut punya usut, Bukit ini dinamakan Bukit Sakura karena ditandai dengan adanya Bunga Sakura dari Jepang yang ditanam di Lereng Gunung Lawu, dan akan dikembangkan menjadi area ekowisata Bunga Sakura 5 tahun kedepan. Tapi sayang, kita tidak sempat berjalan - jalan menemukan bagaimana bentuk bunga andalan dari Negeri Matahari Terbit itu, karena kita terdesak oleh waktu.
Bukit Sakura Lawu

Bukit Sakura Lawu
 Bukit Sakura Lawu menawarkan spot foto beraneka ragam yang didesain unik oleh pengelola setempat. Hawa dingin di pagi hari yang menusuk tulang mendominasi suasana tempat itu. Jangan lupa siapkan sarung tangan, kupluk dan kaos kaki selain jaket yang sudah kita kenakan. Karena kita tidak akan pernah tahu seberapa tinggi derajat suhu di tempat dingin seperti di Lawu ini. Jadi semisal kita kedinginan, kita tinggal memakai perlengkapan yang sudah kita siapkan. Selain spot foto buatan, kita juga disuguhi oleh pemandangan alam yang amazing, menghijau khas hutan belantara. Terlihat juga, indian camp yang berjajar apik menambah istimewa Bukit Sakura sebagai Wisata Buatan.
Bukit Sakura Lawu
Gazebo Bukit Sakura Lawu
Indian Camp Bukit Sakura Lawu
Indian Camp
Karena rombongan kita terdesak oleh waktu, akhirnya terpaksa kita menyudahi kegembiraan bersua foto di Bukit Sakura. Kita kembali melanjutkan perjalanan menuju destinasi tujuan. Berangkat dari Cemoro Sewu jam 06.00, sampailah kita di Surakarta jam 08.30. Seperti yang saya bilang diatas, bahwa liburan kita kali ini adalah liburan shoping, alias berlibur sambil berbelanja, maka destinasi kita adalah BTCdan PGS. Tau nggak apa itu BTC dan PGS. Saya sendiri awalnya juga nggak tau kok. Maklum, saya belum bertualang sampai provinsi tetangga. Hehehe. Jadi BTC itu kependekan dari Beteng Trade Center yang merupakan salah satu pusat perbelanjaan di Solo dan menjadi incaran para penduduk lokal maupun non lokal karena terkenal harganya yang lebih bersahabat dengan kantong. BTC Solo ini dekat dengan PGS, yaitu Pusat Grosir Solo, jadi yang namanya Pusat Grosir, PGS ini menawarkan barang - barang yang bisa dibeli grosir tentunya dengan harga yang lebih murah. 
BTC
BTC Beteng Trade Cente 
PGS
PGS Pusat Grosir Solo
Apa saja sih yang dapat kita temukan di BTC dan PGS? Jawabannya adalah banyak. Terkecuali jodoh yaa. Hahahaa. Jangan ngarep nemuin jodoh disana, terus dibungkus pake daun dan dibawa pulang atau boleh dimakan diperjalanan. Sadar gess, emang nasi bungkus? Oke lanjut. Hmmmm, kalau saya pribadi sih kurang tertarik gitu yaa. Maklum, saya bukan type orang yang suka shoping. Hehe. Alibi orang nggak berkantong tebal nih. Tapi serius ini mah, saya nggak terlalu suka shopping. Alhasil, ketika pulang dari BTC dan PGS ini saya hanya dapat daster pesanan emak saya, dan celana batik saya. Di BTC dan PGS, kalian bakal nemuin seambrek pedagang yang menjual baju jadi, kain, tas, sepatu dan segala kebutuhan, termasuk pernak pernik tubuh ataupun rumah.
Naik Becak Solo
Naik Becak Solo
Perjalanan Solo Jogja

Kampung Batik Solo
Kampung Batik Solo
Ohyaa, yang menarik di Kota Solo ini, saya dan teman saya menyempatkan naik becak berkeliling museum dan Keraton Solo meskipun kita tidak sempat masuk ke dalam sana. Lalu abang becak menyarankan kita untuk mengunjungi Kampung Batik. Sumpah, menurut saya Kampung Batik ini diindikasikan buat kalian yang suka batik berkelas. Karena, batik batik di Kampung Batik ini kurang cocok buat saya si bukan kantong tebal. Hahahaa. Tapi di Kampung Batik ini menyediakan Batik dengan berbagai harga kok. Mau yang mahal, adaaaa. Mau yang sedang - sedang aja, adaaaa. Mau yang murcee alias murah cekali, Adaaa juga. Dan uniknya, Kampung Batik yang beberapa tokonya seperti berbentuk Butik ini menyajikan kegiatan Membatik Tulis dan Cap yang bisa dinikmati secara langsung oleh pengunjung. Alhasil, akhirnya saya bisa memegang canting beneran, mencium bau malam (bahan batik) yang masih anget-angetnya, dan mengetahui teknik membatik tulis maupun cap. Kerennn. Mengedukasi sangat. Jangan lupa kalau ajakin anak - anak, mampir aja ke Kampung Batik minta di anterin abang becak juga boleh. Hehhee.
Tumbuhan Klewer Pasar Klewer
Tumbuhan Klewer di Pasar Klewer
Pasar Klewer
Pasar Klewer
Bukan hanya BTC dan PGS yang menjadi sasaran rombongan kita berbelanja, kitapun tidak melalaikan untuk menyempatkan diri mengunjungi Pasar Klewer. Nahh, tambah bingung juga ni ketika sudah berada di Pasar Klewer karna banyaknya pilihan. Pasar Klewer ini identik dengan pohon pohon yabg berjajar di pinggir jalan dan "pating klewer", itu penuturan dari abang becak yang mengantarkan kami jalan jalan. Jadi penduduk setempat tempo dulu, menamainya menjadi Pasar Klewer. Pokoknya, kalau ke Solo, Pasar Klewer ini menjadi tempat wajib yang harus kalian jelajahi. Disana menyediakan berbagai barang barang yang di jual dengan berbagai harga. Harus pandai pandai menawar ya. Biar nggak keblocok kalo orang sini bilang. Hehee.

Setelah puas memilih belanjaan di Pasar Klewer, yang mana saya hanya dapat kalung tasbih untuk adik saya dengan harga yang cukup murah yaitu 10ribu rupiah, rombongan kitapun melanjutkan perjalanan ke Jogja. Tau kan destinasi mana yang menyajikan belanjaan dengan harga ekonomis sampai berkelas? Tentunya Malioboro dong. Kita sampai di Malioboro sekitar jam 17.30. Lalu kitapun berkeliling dengan grup masing masing, berburu kebutuhan hidup yang sudah tergambar dalam angan angan kami.
Malioborro
Kantor Gubernur Jogja
Malioborro
Suasana Malam Malioboro
Di Malioboro banyak hal yang saya temukan dan tentunya akan saya rindukan lalu saya jangkau kembali. Saya masih belum puas menikmati perjalanan di Malioboro ini karena terdesak oleh waktu. Banyak hal yang nantinya akan membuat saya kembali, yaitu menikmati musik khas yang dimainkan oleh seniman setempat, duduk santai menikmati kopi di kursi pinggir trotoar, menyicipi makanan makanan yang dijual oleh penduduk lokal dan bercengkerama santai dengan kawan. Pokoknya banyak hal yang sangat membuat saya ingin kembali ke Maliborro selain barang barang yang dijual disana sesuai kantong saya. Hahaa.
Malioborro
Belanja di Malioboro
Sementara cukup itu dulu cerita Perjalanan Solo Jogja yang Mengistimewa dari saya, penutup cerita perjalanan ini adalah rombongan kita mampir di Bakpia 145 yang memiliki rasa bakpia jos gandos kotos kotos. Bakpia Bakpia di Bakpia 145 dibandrol dengan harga 35ribu untuk sekotak bakpia kacang hijau yang berisi 20biji, dan 20ribu untuk sekotak bakpia kacang hijau yang berisi 10biji. Rasa dan jumlah bakpia dalam sekotaknya menentukan harga lo, tapi jangan salah, meski harganya hmmmm agak menguras kantong, saya jamin kalian nggak bakal menyesal untuk membelinya, karena rasa yang enduess banget. Sampai sampai dua keponakan saya, si fajar dan si imel aja juga sangat menyukainya.

Bye, sampai ketemu dengan cerita perjalanan saya selanjutnya.

1 komentar so far

Jalan" terus kak


EmoticonEmoticon