Rabu, 01 Agustus 2018

Mengaji Bersama Menteri Agama, Sujiwo Tejo dan Gus Reza Di IAIN Tulungagung

Mengaji Bersama Menteri Agama, Sujiwo Tejo dan Gus Reza Di  IAIN Tulungagung
Sebelumnya saya ucapkan Selamat Memasuki Usia Kampus yang Ke-50 Tahun untuk Kampus Tercintaku IAIN Tulungagung. Setelah menyelesaikan studi selama 2 tahun dan memperoleh apa yang belum saya peroleh sebelumnya, menambah sebagian hal yang saya butuhkan dalam hidup ini, haru begitu menyeruak menemani kebahagiaan saya. Doa saya, semoga IAIN Tulungagung semakin berkembang dari masa ke masa, segera operasi kelamin menjadi UIN Tulungagung (menirukan bahasa salah satu dosen waktu saya kuliah) dan melahirkan mahasiswa yang berkualitas, berwawasan luas, berkarakter serta siap bersaing dalam arus globalisasi. Aamiin. Rasanya masih belum puas mengenyam pendidikan hanya 2 tahun di Kampus Peradaban tersebut, ada harapan terkecil dalam hati untuk bisa melanjutkan menimba ilmu lagi, supaya menjadi pembelajar, pengajar dan manusia yang lebih produktif. Aamiin.
Mengaji Bersama Menteri Agama, Sujiwo Tejo dan Gus Reza Di  IAIN Tulungagung
Sebagai perayaan Diesnatalis IAIN Tulungagung yang ke 50 Tahun, IAIN Tulungagung menyelenggarakan berbagai acara yang dikhususkan untuk mahasiswa mahasiswa kampus peradaban itu sendiri, hingga diperuntukkan bagi masyarakat umum seperti Bazar dan Pensi, serta Ngaji bareng Bapak Menteri agama, Sujiwo Tejo dan Gus Reza. Nah berhubung status saya di IAIN adalah mahasiswa abu - abu karna sedang otewe menjadi Alumni, saya juga berkontribusi menghadiri pengajian yang mana salah satu narasumbernya merupakan Tokoh Idola saya. Heuheuheu. Demi bisa mengaji bersama tokoh idola, dan tokoh-tokoh penting lainnya, saya rela pulang lebih dari tengah malam yang pada akhirnya disatroni emak saya. Semoga saya memang benar-benar ikhlas untuk mengaji bersama, sehingga kebarokahan tokoh-tokoh penting itu sampai kepada saya. Aamiin.

Urusan saya yang disatroni emak saya, hmmmm, sebenarnya itu bukan masalah yang besar. Hal itu wajar saja terjadi, mengingat saya adalah anak perempuan dengan beraninya nekat motoran pulang sendirian dari IAIN sampai rumah, yang padahal jarak tempuhnya memakan waktu sekitar 1jam. Yang terpenting saya selalu ingat pesan emak untuk selalu membaca ayat qursy ataupun surat pendek lainnya di sepanjang perjalanan, Yakin Alloh selalu melindungi saya. Jawaban itu langsung membuat emak saya nggak bisa marah lama-lama ke saya. Tenang mak, Insyalloh anakmu selalu bisa jaga diri, yang penting doain aja biar anakmu cepat dapat jodoh. Ehhh, maksudnya selamat dan dilindungi Alloh dimanapun anakmu berada. Aamiin.
Mengaji Bersama Menteri Agama, Sujiwo Tejo dan Gus Reza Di  IAIN Tulungagung
Oke. Kita langsung saja pada intinya. Kemarin itu saya sampai tempat acara di selenggarakan (di Lapangan Tengan Kampus IAIN) sekitar pukul 20.00. Ternyata Tokoh Idola dan Narasumber lainnya sudah standby ada di panggung meskipun acara belum di mulai. Ontime banget kan. Nihh bisa kita teladani, betapa ketepatan waktu itu sangat penting untuk diperhatikan demi menunjang kesuksesan. Eeeaakkk.

Saya rasa pengajian kali ini menjadi pengajian dengan jumlah audience terbanyak melihat keadaan lapangan tengah kampus peradaban itu penuh dengan manusia - manusia masa kini yang haus akan pengetahuan, dan banyak juga audience yang berdiri di depan-depan kelas, demi bisa mengikuti pengajian ini. Pemikiran saya akhirnya terbenarkan oleh kalimat sambutan dari Bapak Rektor yang mengatakan bahwa snack sejumlah 5000 buah telah habis dibagikan kepada para audience, yang padahal kala itu audience masih banyak yang berdatangan. Jadiii jangan tanya lagi bagaimana ramenya, tentu rame sekali.

Tema yang dibahas dalam pengajian malam itu adalah "Kita Ber-Indonesia, Kita Beragama". Sorry, kali inii saya nggak mau nambah-nambahin komentar gimana-gimana, selain ini bukan tulisan yang berbentuk review dari saya, ilmu sayapun juga belum sampai untuk memberikan komentar apa-apa. Alih-alih dari komentar saya bisa ngasih pencerahan, bisa jadi ocehan saya malah bikin banyak orang gagal paham. Jadi saya akan menulis apa yang saya dengar malam itu. Kalaupun tidak persis seperti apa yang dikatakan oleh narasumber, setidaknya masih masuk dalam intinya. Hal seperti ini sengaja saya tulis, supaya nanti bisa saya jadikan bahan bacaan di lain waktu. Keingat dhawuhnya dosen saya juga, "Sesuatu yang hanya didengarkan bisa saja terlupa, alangkah lebih baik ditulis menjadi catatan"

Salah satu kalimat yang saya garis bawahi dan sangat melekat di memori saya adalah ketika Mbah Tejo bilang bahwa ada hal yang menjadi keprihatinan besar di Indonesia, yaitu mayoritas masyarakat lebih menonjolkan aspek formal daripada akhlaknya. Hmmmm, seperti dicontohkan beliau ketika memasuki hari lebaran kemarin, banyak orangtua yang mengagung-agungkan anaknya dengan prestasi anak yang berjibun. Dan rupanya tidak terdengar pula orangtua menceritakan kegiatan anak yang berkaitan dengan akhlak anak tersebut. Pantas saja hal ini menjadi salah satu hal yang perlu di prihatinkan. Bagaimana seorang anak bisa berakhlak, jika akhlaknya saja sama sekali tidak disinggung oleh orangtuanya. Padahal akhlak merupakan kunci utama dalam menjalani kehidupan, baik Ber-Indonesia, maupun Beragama. Dengan menjadi manusia yang berakhlak, maka bangsa kita mampu menyikapi segala perbedaan yang ada dengan bijak.

Kemudian Bapak Menteri Agama menimpali ucapan Mbah Tejo mengenai perbedaan, menurut beliau jangankan dalam satu agama, antara agama yang satu dengan agama yang lain itu tidak ada perbedaan jika agama dilihat dari substansinya atau esensinya, yang lalu kemudian mewujud pada akhlak ataupun ihsan. Jadi sisi dalam dari semua agama hakekatnya itu sama, yaitu memanusiakan manusia. Tapi jika agama dilihat dari perspektif sisi luarnya, dilihat dari institusional, secara kelembagaan, secara formal, maka kita akan melihat keragaman yang luar biasa. Dan hal itulah yang disebut dengan area syariat. Jadi agama tidak hanya aspek substantif yang hakekatnya mewujud pada akhlak, tapi juga agama itu ada syariatnya. Oleh karenanya memang yang diperlukan adalah bagaimana kita bisa melihat dua perspektif tersebut secara proporsional, jangan dibalik-balik. Jadi kalau esensinya ya esensi, tapi kalau syariatnya ya memang harus saling menghormati, harus saling menghargai antara keberagaman yang tidak sama.

Dan terakhir adalah pendapat yang melekat di memori saya yang diutarakan oleh Gus Reza menjawab pertanyaan dari salah satu audience yaitu "Bagaimana Kita Mencintai Orang Lain dengan Cinta sesungguhnya?".  Kemudian Gus Reza memberikan jawaban kurang lebih seperti ini: "Cinta itu adalah sumber daripada iman. Semakin tinggi cinta kita, maka semakin tinggi iman yang kita dapatkan. Dengan ciri ciri Ketika kita melihat keindahan di orang lain, maka di dalam hati kita terdapat keindahan. Tetapi jika kita memandang semua orang jelek, maka sebenarnya di dalam hati kitapun terdapat kejelekan. Yang lebih konkret lagi seperti yang dihaturkan oleh Nabi Muhammad SAW yaitu "Kalian belum bisa dinamakan orang yang beriman, ketika engkau belum bisa mencintai orang lain, seperti halnya engkau mencintai dirimu sendiri. Engkau adalah orang yang beriman, ketika engkau mencintai orang lain seperti engkau mencintai dirimu sendiri".

Kira-kira seperti itulah sepintas garis besar yang saya tangkap dan melekat di memori saya dari acara Mengaji Bersama Menteri Agama, Sujiwo Tejo dan Gus Reza Di  IAIN Tulungagung. Heuheuheu. Maklum faktor U juga agak mempengaruhi daya ingat serta kelemotan system berpikir di otak saya. Jadi tidak semua hal bisa saya tampung secara langsung saat itu juga. Ada beberapa hal belum terserap yang tentunya harus belajar lebih banyak lagi, dan semoga di lain waktu bisa dipertemukan dengan orang - orang hebat seperti narasumber tersebut, sehingga bisa meniru jejak beliau - beliau dalam Ber-Indonesia dan Ber-Agama, lalu menjadi manusia yang bermanfaat untuk Nusa Bangsa. Aamiin.


EmoticonEmoticon