Jumat, 10 Agustus 2018

Argopuro Sayang, Argopuro Malang.!

Argopuro Sayang, Argopuro Malang
Dokumentasi Video Akun Instagram @jaligoeshiking
Argopuro Sayang, Argopuro Malang- Akhir akhir ini, jagad maya digemparkan oleh pemberitaan tentang pembangunan akses jalan di lereng gunung Argopuro. Hal itu menjadi perhatian besar para netizen terutama para pecinta alam. Dan begitupun dengan saya sendiri, banyaknya postingan yang berseliweran di akun media sosial instagram dimana terjadi kontra menyayangkan sikap pemerintah daerah setempat yang berani mengambil kebijakan untuk tetap melanjutkan pembangunan jalan lereng Gunung Argopura  (sampai pada saat informasi itu saya dapat) hingga membuat saya gemas untuk menuliskan unek - unek saya.

Bukankah dengan melakukan pembangunan di lereng gunung seperti hal itu, sangat mengganggu keseimbangan ekosistem? Saya pribadi mungkin belum pernah menginjakkan kaki untuk traking menyusuri akses jalan menuju puncak Argopuro. Namun melihat potensi Gunung Argopuro yang menjadi salah satu gunung yang banyak diminati oleh para penggiat alam, saya ikut kecewa apabila pembangunan Argopuro ini tetap dilanjutkan. Argopuro biarlah menjadi Argopuro dengan segala keistimewaannya. Argopuro memang bukan diperuntukkan untuk disinggahi kendaraan bermesin, karena Argopuro menjadi tempat menepi dikala kita sudah jengah dengan suara hiruk pikuk kendaraan bermesin di dataran rendah. Kemana lagi tempat kita bermain jika di Gunung yang menjadi tempat untuk mencari ketenangan, justru ternodai dengan keramaian pula?

Salah satunya informasi yang saya lansir dari postingan di Instagram oleh akun @jaligoeshiking menerangkan kebengisan jaman canggih teknologi dalam mengekploitasi alam habis habisan dengan rentetan kalimat seperti berikut ini:
Quo Vadis pembangunan Argopuro: Bye-bye jalur trekking terpanjang di Pulau Jawa
Argopuro punya posisi unik di dunia pendakian nusantara: Jalur trekking terpanjang di pulau Jawa (42km+).
Untuk ukuran pulau Jawa yang padat penduduk dan didominasi perkotaan, ini sebuah "prestasi" luar biasa. Sayangnya hal tersebut bakal hilang dengan proyek ambisius yang menebang ratusan pohon dan melebarkan jalan untuk kemudahan akses kendaraan bermotor hingga mata air 1.
.
Berdasarkan konfirmasi dari BBKSDA Jatim, jalan tersebut ditujukan untuk pengangkutan hasil hutan warga, cuma saya skeptis proyek milyaran tersebut "hanya" untuk mengangkut hasil hutan warga, berdasarkan berita di AntaraNews, Pemerintah Kabupaten Situbondo, Jawa Timur, akan segera membangun sarana dan prasarana, termasuk jalan menuju Gunung Argopuro sebagai penunjang wisata alam dan Situs Rengganis.
.
Master plan pembangunan tersebut tidak dibuka untuk publik sehingga para penggiat kegiatan alam bebas hanya menerka-nerka saja dan berasumsi bagaimana sebenarnya proyek tersebut dilaksanakan: akankah dibangun resort dan penginapan seperti desas-desus di kalangan warga? apakah jalan dilebarkan sampai Cikasur atau sampai situs Dewi Rengganis? dan berbagai pertanyaan lain. Ketidakjelasan ini wajar menimbulkan kontroversi karena berdasarkan berita di atas, komunitas pecinta alam tidak dilibatkan dalam sosialisasi melainkan komunitas penggiat sepeda gunung. Mungkin kami-kami yang berjalan kaki ini gak dianggap. Gak di kota gak di pegunungan, kaum pejalan kaki pasti jadi prioritas paling akhir.
.
Kemudahan akses menuju Cikasur pasca pelebaran jalan pun mengundang makin banyak komunitas motor trail atau perorangan dari berbagai daerah yang berminat menjelajahi Cikasur seperti yang saya alami minggu kemarin. Jalur yang cuma satu memaksa saya yang pejalan kaki ini harus minggir mengalah sama deru mesin dan debu dari ban-ban kendaraan bermotor (jumlahnya sekitar 20 motor lebih), di beberapa spot yang sempit, saya dan teman-teman bahkan harus ekstra hati-hati biar gak kesenggol motor.
.
Apakah dibenarkan motor dalam jumlah yang besar masuk ke kawasan inti konservasi Cikasur dalam waktu yang bersamaan? mengingat Cikasur adalah habitat merak, babi hutan, dan ayam hutan yang masih bisa kita jumpai ketika pagi dan sore hari ketika camp di sana. Sempat beredar kabar juga kalau 17 Agustus nanti pendakian bakal ditutup karena ada event motor trail, jadi bisa dibayangkan betapa "meriahnya" Cikasur nanti. Menurut saya ojek warga sekitar tidak masalah karena jumlah dan frekuensinya tidaklah banyak, saya termasuk pengguna ojek juga walau sampai batas makadam saja, pendaki harusnya dilarang menggunakan ojek melebihi pos Mata Air 1 (batas proyek pelebaran jalan)
.
Kalau mau dikembangkan sebagai potensi wisata, sebaiknya mengambil dari positioning Argopuro sebagai jalur trekking terpanjang se-Jawa. Jalur dibenahi dan diperbaiki, kalaupun mau ada jalur motor atau sepeda gunung, sebaiknya dipisah dengan jalur pejalan kaki (kabarnya dari Jember ada jalur motor, kenapa gak dioptimalkan saja tanpa mengkanibal jalur Baderan), marka-marka ditambah karena banyak percabangan yang menyesatkan, fasilitas seperti shelter atau toilet basah dibangun (toilet Cikasur dan Taman hidup yang baru dibangun tidak berfungsi), manajemen pengangkutan sampah dibenahi dengan memanfaatkan warga sekitar sebagai penjaga kawasan
.
Ingat, di Indonesia gak ada yang punya posisi yang unik seperti dataran tinggi Hyang dengan savananya yang sangat luas dan banyak. Kalau hanya meniru pembangunan wisata di tempat-tempat lain, apa istimewanya Argopuro kelak? hanya menambah daftar panjang wilayah konservasi dimanfaatkan sebagai tempat wisata alam yang hanya berfokus pada profit semata dan dieksploitasi habis-habisan
.
Ah tapi sudahlah... ini hanya curhatan hati dan saran saya sebagai orang luar yang sudah empat kali berkunjung ke Argopuro dan begitu mencintai kawasan dataran tinggi Hyang dengan Cikasurnya. Hal-hal kecil yang saya lakukan cuma membereskan sampah di sekitar shelter rubuh dan pohon Cikasur, mematikan api unggun yang masih menyala ditinggal orang, atau memperbaharui dan sharing tracklog GPS jalur pendakian buat bekal teman-teman pendaki yang akan berkunjung kelak biar tidak tersesat. Ketika lintas Baderan-Bermi juga saya selalu menginstruksikan teman-teman agar sampah tidak dibuang di Bermi melainkan di POM bensin terdekat biar tidak memberatkan petugas basecamp mikirin sampah yang menumpuk.Tidak banyak memang, hanya tindakan kecil yang bisa saya lakukan pribadi demi kecintaan saya kepada Argopuro.
Argopuro Sayang, Argopuro Malang mengapa hal semacam ini harus terjadi kepadamu? Sedangkan saya saja belum sempat menjamahmu, bercanda mesra denganmu, dan berbicara menuangkan keluh kesah setelah merasakan nikmatnya trakking menyusuri indah pemandangan yang kau tawarkan. Argopuro Sayang, Argopuro Malang, riwayatmu kini dipertaruhkan. Nasibmu kini dipertanyakan.! Akankah pembangunan yang tidak seharusnya terjadi kepadamu seperti ini tetap dilanjutkan? Kemana lagi tempat para pencari ketenangan bermain, jika di tempat yang tenang saja tetap dekat dengan keramaian? Bagaimana dengan nasib flora fauna endemik melihat habitatnya rusak dan seolah memaksa mereka harus berbaur dengan manusia lalu suara kendaraan bermesin?

Semoga, pembangunan semacam ini bisa lebih dipikirkan lagi sebab dan akibatnya, karena menurut saya hanya menjadi keuntungan beberapa pihak semata, seperti berbicara soal memudahkan wisatawan untuk menikmati keindahan alam Argopuro, sebab memang pada dasarnya Gunung tetaplah Gunung. Menjangkaunya dengan berjalan kaki sudah menjadi Harga Mati. Mempromosikan boleh dan sangat bagus untuk mendompleng perkembangan ekonomi daerah setempat, tetapi tidak dengan cara merusak alam.! Setuju???

2 komentar

Sayang, alam sering kali harus mengalah pada kebutuhan ekonomi.


EmoticonEmoticon