Selasa, 24 Juli 2018

Cerita Cinta Sederhana Di Bulan Juni

Tulisan ini memang sengaja aku samarkan. Jika kau memiliki kadar kepekaan yang tinggi, tanpa aku sisipkan namapun tentunya kau tau ini perjalanan cerita cinta siapa. Maaf juga cerita cinta ini aku titipkan untuk ditulis lalu dipublikasikan oleh adminnya. Karna aku tau bahwa cinta yang pernah ada antara kita juga berupa titipan, untuk itulah hanya bersifat sementara.

Karna terlalu sederhana caraku mencintaimu, sampai aku tidak tau bagaimana lagi cara mengejarmu yang tidak memperjuangkanku. Memintamu meyakinkan aku yang tiba-tiba mati rasa karena ceritamu, ahhhh aku tidak seberani itu. Cukup melihatmu dari kejauhan untuk memastikan seberapa besar sebenarnya keseriusan yang kau utarakan. Aku memang sengaja membiarkan cerita cinta sederhana kita nangkring di deretan Blog Tri Wahyuni ini sebab aku geram, betapa menyebalkan antara "kantuk dan ingatan" yang hidup berlawanan selama 576 jam di setiap malamku, sekalipun sudah kumatikan lampu kamar, nyala rinduku malah semakin terang. Menyebalkan sekali bukan.?

Suatu hari kita bertemu di persimpangan jalan perumahan elit di kota kelahiranku, kota kelahiranmu. Pertemuan yang sudah berulang kali kita rencanakan setelah 2 tahun lebih masa pertemanan kita. Pertemuan yang terjadi karena adanya hasrat untuk menjalin keseriusan. Kita terlibat percakapan panjang lebar, sambil bercanda-bercanda, padahal sebelumnya aku tidak membayangkan bisa bertemu denganmu lama-lama. Lalu, selang beberapa menit aku memaksamu untuk segera pulang, dan kau antar aku ke rumah kakakku. Rasanya masih membekas wangi parfum pakaian yang kau kenakan kala itu. Serta tatapan mata dan senyummu yang menenangkan, membuat terlalu sayang untuk dilupakan.

Tiga puluh menit setelah pertemuan berlalu, kita kembali asyik meneruskan percakapan di Whatsap. Kau tanyakan kepadaku "Bagaimana penilaianmu tentang aku?". Aku berpikir keras untuk menjawab pertanyaanmu, agak terdiam lama, dan bingung mau mulai menjawab darimana. Orang yang bisa melihat tentunya memberikan nilai 90 untuk tampilan fisikmu, 85 untuk caramu memperlakukan perempuan, dan 90 juga ketika berkomunikasi. Haruskah kuantitas menjadi faktor penting untuk memulai hubungan? Aku tidak peduli akan hal itu. Sama sekali tidak peduli dengan nilai kuantitas tentangmu. Aku mencintaimu karena aku benar-benar mencintaimu.
Cerita Cinta Sederhana Di Bulan Juni
Sempat juga aku katakan kepadamu, janji hati untuk membuatmu yakin akan keseriusanku: "Ketika aku sudah memutuskan untuk memilihmu, maka aku akan mencintaimu dan setia kepadamu. Hal itu berlaku juga kepada keluargamu. Aku akan mencintai ibumu dan sodara-sodaramu." Dimana yang aku tahu berdasarkan ceritamu bahwa orangtua yang kau punya tinggal Ibumu saja, dan sejak aku putuskan menjalin keseriusan denganmu, aku bertekad juga untuk mencintai serta menjaga beliau (wanita yang melahirkan dan mengasuhmu). Suatu hal yang tidak pernah aku janjikan kepada seseorang sebelumnya.

Aku membenci waktu yang berjalan begitu cepat. Atau memang Tuhan yang tidak membiarkanku terjebak lama-lama oleh cinta yang kurang tepat? Lambat laun, hubungan yang berlandaskan komitmen keseriusan itupun semakin dekat. Karena semakin dekat, maka aku beranikan diri untuk mengetahui tentang dirimu yang tertutup. Dengan rasa penasaran yang menggebu-gebu, persis seperti seseorang yang sedang melakukan interview dan aku sebagai eksekutor-nya, tugasmu hanya menjawab apa yang aku tanyakan. Aku memang sadar, rasa penasaran atau rasa ingin tahu itu bukanlah sesuatu yang baik, tapi aku bukan type perempuan yang hanya "ngiyain" aja tanpa mengetahui apa yang ingin aku tahu. Akupun paham betul sedikit banyak dari konsekuensi rasa ingin tahu, entah jawabanmu yang akan menyakitiku, ataupun sikapku nanti yang akan berubah padamu, atau bisa jadi penilaianku tentangmu yang menurun drastis.

Kau bilang: "Aku sempat menjalin hubungan keseriusan seperti kita ini dengan perempuan lain sebelumnya selama 8 bulan. Dan kami berpisah bulan januari kemarin." Kalimat yang berhasil meremas hatiku dengan kekuatan maksimal, dan konyolnya aku masih bisa meneruskan semua pertanyaanku. Aku ingin semua ini dibahas tuntas, sudah terlanjur jatuh di air, berenang sekalian siapa tau bisa segera menepi. Sambil menahan dadaku yang terasa nyeri, tangan yang berkeringat dingin dan tubuh yang rasanya melayang layang, aku masih tidak percaya dengan semua pengakuanmu kala itu.

Aku jawab: "Lalu aku? Maksudku bagaimana dengan becandaan kita yang terkesan keterlaluan waktu itu.?" (Inti pertanyaanku begitu). Sambil dengan gemetar jariku mulai menghitung waktu, 8 bulan aku hitung mundur dari bulan Januari, dan jatuh di bulan Juni. Masyaalloh, semakin aku tekan rasa nyeri yang begitu menyeruak di dadaku. Bukankah di bulan-bulan pertengahan dan akhir tahun 2017 kau gencar memberikan gombalan receh kepadaku? Padahal aku sama sekali tidak mengetahui kala itu kau sudah berpendamping. Ya Tuhan, tanganku benar-benar gemetar, bahkan kala itu juga kau mengklaim bahwa dirimu sendiri tidak berpendamping. Sama artinya kau tutup mata akan kehadiran pendampingmu.

Kau bilang: "Hubunganku sedang tidak stabil saat itu dan aku mengagumimu.!" Hello, kau buat seolah-olah aku sebagai temanmu perempuan yang bisa seenaknya kau datangi ketika hubunganmu sedang tidak stabil. Begitu maksudmu? Tidakkah kau memikirkan perasaanku dan dampak jangka panjang kedepannya dari kelakuanmu ini? Sumpah demi apapun, pengakuanmu masih benar-benar membuatku tidak percaya hingga detik ini, kenapa bisa? Kenapa tidak kau katakan saja kala itu kalau kau sudah berpendamping. Tidak, aku tidak berpikiran sempit. Aku hanya menuntut kejujuran dan keterbukaanmu saja.

Kau tanya: "Kamu nggak mau memberiku kesempatan? Aku akan berubah lebih baik lagi.!" Rasanya hatiku ingin berteriak melontarkan kalimat Aku ingin kamu, aku cinta kamu, dan aku mau memberimu kesempatan. Tapi, aku mencoba untuk berpikir logis. Aku terbelenggu dengan ketakutan akan masalalumu, bagaimana nanti jika kau memperlakukan aku seperti kau perlakukan mantanmu? Ketika hubunganmu sedang tidak stabil, kau cari teman perempuan lain dan bercanda yang keterlaluan, lalu kau menutup mata akan hadirnya diriku. Aku takut, aku benar-benar takut. Aku tidak siap patah berlebihan sekali lagi, setelah aku berhasil bangkit dari kepatahanku selama ini.

Hari ini, aku nekat mengirimkan cerita cinta sederhana kita untuk admin Blog Tri Wahyuni karena tiba-tiba aku teringat tentangmu. Aku masih saja suka baper hanya karna mengingat apa yang kau katakan. Seperti pagi tadi ketika ibuku bilang: "Enak kalau hidup di desa, pengen sayuran bisa metik di pekarangan." Entah kenapa jiwa melankolis mengajakku mengingat pertemuan denganmu di persimpangan jalan perumahan elit itu. Dan yang dikatakan ibuku itu persis dengan yang kau katakan bukan? Kau sudah lupa? Iyalah lupa. Ngga ada alasan buatmu untuk mengingat aku. Haha. Aku ingin menertawai diriku sendiri.
Cerita Cinta Sederhana Di Bulan Juni
Pernah juga aku baper hanya gegara seseorang yang memposting gambar di story tentang laporan baca dan last seen yang di off-kan (Gambar diatas). Mendadak aku ingat percakapan kita.
Katamu: "Kenapa kalau aku chat laporan bacanya nggak berwarna biru?"
Jawabku: "Yaaa memang aku matikan laporan bacanya."
Katamu: "Buat apa?"
Jawabku: "Nggak buat apa-apa sih. Pengen tak hidupkan?"
Katamu: "Iyaa, hidupkan."
Dan Parahnya, si keras kepala ini dengan nurutnya langsung menghidupkan laporan baca sekaligus last send di aplikasi whatsapku. Aku lakukan itu semata-mata karena aku ingin menunjukkan bahwa aku menghargaimu sebagai pendampingku. Seperti yang aku bilang kepadamu. Ahhhh sudahlah. Rasanya aku ingin berlari jauh dan meninggalkan kota kelahiranku ini supaya tidak lagi teringat apa-apa yang menyisakan kesakitanku.

Sekali lagi tentangmu, dulu pernah kau pinta kepadaku untuk menuliskan cerita cinta sederhana kita ketika kau mengetahui bahwa aku suka membaca dan menulis. Lalu aku hanya mengiyakan saja, tanpa mengatakan sesuatu kepadamu, padahal mayoritas narasi yang sering aku kirimkan di media massa online selalu berlatar kesedihan karna perpisahan. Dan permintaanmupun hari ini terjadi, tulisan tentang cerita perpisahan kita berderet cantik di dalam Blog Pribadi. Yang kalau boleh aku jujur, imaginasiku saat itu ingin menuliskan cerita cinta untuk kisah kita yang panjang. Tapi aku tak apa.!

Kita memang tidak sejiwa sayang. Meskipun sering kali di sujud istikharahku aku paksa Tuhan dengan rintihan tangis yang melarakan hati, untuk menjodohkan aku denganmu. Namun rupanya Tuhan jengah dengan pintaku saja. Aku sendiri lupa, jika Doa tanpa Usaha itu bagaikan sesuatu yang kosong, lalu disini sama sekali tidak terlihat usahaku pun usahamu untuk bersatu.
Sudah, kini aku tahu jawabannya.!
Terimakasih untuk Cerita Cinta Sederhana Di Bulan Juni.



EmoticonEmoticon