Selasa, 26 Juni 2018

Tradisi Kupatan Tahun 2018

Tradisi Kupatan
Tradisi Kupatan 2018 - Setiap tahun pasca melewati bulan Ramadan selama satu bulan, kita akan dipertemukan dengan Hari Kemenangan yang disebut Hari Raya Idhul Fitri umat muslim di seluruh dunia. Kalau di Pulau Jawa khususnya di daerah saya (Jawa Timur), Idhul Fitri dikenal dengan istilah Riyaya atau Bada. Untuk menyambut datangnya hari Kemenangan setelah perang melawan hawa nafsu selama satu bulan, beberapa  budaya yang sudah melekat di masyarakat kerapkali dilakukan. Yaitu memadatnya pusat perbelanjaan akibat banyak masyarakat yang berbondong-bondong belanja makanan ringan pengisi toples untuk dihidangkan buat para tamu yang datang berkunjung ke rumah, budaya membeli baju baru juga tidak pernah terlupakan oleh sebagian besar orang, kemudian adalagi budaya "nyangoni" atau memberi uang saku untuk anak-anak kecil yang ikut orangtuanya datang silaturohhim, pemasangan aksesoris untuk jalan raya supaya terlihat berbeda lebih cantik dan lebih rame, kemudian ada juga budaya menerbangkan balon udara setelah dilaksanakan sholat ied, serta beberapa budaya lain yang juga dilaksanakan untuk menyempurnakan datangnya Hari Kemenangan itu.

Satu Syawal sangat dinanti-nanti oleh para umat muslim karena merupakan puncak perjuangan. Namun, setelah tanggal satu syawal pun terdapat sunnah puasa syawal yang akan melengkapi perjuangan puasa kita selama satu Bulan Ramadan. Perjuangan puasa sunnah syawal selama tujuh hari itu nanti akan ditutup dengan suatu tradisi yang disebut Tradisi Kupatan. Tradisi kupatan dipercayai oleh masyarakat jawa dibawa oleh Sunan Kalijaga hingga turun temurun sampai sekarang. Ini adalah suatu tradisi yang menunjukkan keberagaman budaya di Indonesia dan patut untuk dilestarikan. Bukan hanya asal-asalan, Sunan Kalijaga mentradisikan Kupatan ini tidak tanpa alasan. Ketupat yang hanya terlihat sederhana secara visual karena terbuat dari "Janur" atau daun kelapa muda memiliki beberapa filosofi yang bagus untuk dipelajari, diterapkan dan dibudayakan. Berikut filosofinya:
Tradisi Kupatan

Nah, beberapa daerah di dekat tempat tinggal saya pun juga merayakan Tradisi Kupatan. Namun dari beberapa daerah itu yang paling terkenal adalah daerah Kabupaten tetangga, atau Kabupaten Trenggalek. Induk Tradisi Kupatan di daerah Kabupaten Trenggalek ini berada di Kecamatan Durenan. Jadi buat kalian semua penikmat tulisan saya yang bingung mau kemana ketika masuk Hari Tradisi Kupatan, saya rekomendasikan mending jalan-jalan berburu ketupat aja di Durenan, hehehee. Kenal ataupun nggak sama yang punya rumah, kalian bakal dilayanin sebaik mungkin dan nggak bakalan ditanya rumahmu mana (kalau beruntung) hahhaa. Modalnya cukup nggak punya malu aja, tapi saya jamin, masyarakat Trenggalek khususnya masyarakat Durenan ini ramah-ramah dan welcome semua kok. Jadi tidak perlu khawatir jika ingin menghilangkan penasaran kalian akan keramaian Tradisi Kupatan di Kecamatan Durenan.

Tradisi Kupatan
Terjebak Kemacetan
Ada nggak enaknya juga nih kalau mau main ketika perayaan tradisi kupatan. Kalian siap-siap terjebak macet dalam perjalanan aja. Jadi buat ciwi-ciwi yang berkendara roda dua jangan lupa oleskan sunblock pada muka kalian biar nggak terbakar ketika terpapar panasnya sinar matahari (Curcolll). Panasss abissss boooo. Asap dimana-mana pula, kalau nggak demi si emak yang udah dandan sebegitu hebohnya, saya juga nggak mau bermacet-macet ria di perjalanan. Jadi menurut pakdhe saya yang rumahnya Durenan tepatnya di Desa Panggungsari, tradisi kupatan kayak gini emang sudah berjalan lumayan lama ya di Kecamatan Durenan, dan mayoritas dari setiap rumah menyediakan ketupat yang sudah dipotong kecil-kecil,  didampingi dengan berbagai jenis lauk pauk ataupun sayur mayur (ada yang didampingi sayur nangka muda, terus ada juga yang langsung didampingi sate ayam, semur ayam, ataupun olahan daging lainnya).
Tradisi Kupatan
Ketupat+sayur+ayam
Tradisi Kupatan
Ketupat Sate
Saran nih ya saraannn, kalau main pas tradisi kupatan gini mending nggak usah sarapan (Ngarep banget ni orang dikasih makan ketupat). Tenang aja, pasti bakalan dapat sepiring ketupat lengkap dengan sayur+lauknya, secara mayoritas setiap rumah di daerah Durenan menyediakan ketupat kok. Kalau kalian berkunjung ke 5 rumah, yaaa siap-siap aja kalian mendapat 5 piring ketupat. Niat silaturahim apa cari makanan neng? Nggak, ini berdasarkan cerita orang yang kemarin berkunjung ke rumah Pakdhe saya, katanya sih sudah 5 kali berkunjung dan 5 kali sampai di rumah pakdhe saya di kasih makan ketupat juga. Masyaalloh #nelenludah.
Tradisi Kupatan
Tumpeng Ketupat Raksasa

Hal lain yang menarik di Kecamatan Durenan ketika memasuki Tradisi Kupatan bukan hanya menyiapkan makanan dari setiap rumah pada kecamatan itu, namun salah satu hal yang mengagumkan dan sangat unik menurut saya yaitu adanya Tumpeng Ketupat Raksasa. Tumpeng ketupat raksasa edisi tradisi kupatan ini hampir mirip dengan tumpeng-tumpeng yang digunakan untuk Larung Sembonyo yang hanya berbeda isi dan ukuran saja, dimana isi dari tumpeng-tumpeng itu merupakan lambang mengapa tumpeng itu dibuat. Tradisi Kupatan dengan membuat Tumpeng Ketupat Raksasa tersebut selalu diadakan setiap tahun katanya, Tumpeng tersebut diarak sepanjang jalan Durenan yang berangkat dari rumah Kepala Desa Durenan dan kembali ke rumah Kepala Desa lagi. Sungguh menarik bukan hasil kreatifitas masyarakat Durenan? Bagaimana cerita daerah kalian untuk memeriahkan Tradisi Kupatan?


EmoticonEmoticon