Kamis, 08 Maret 2018

Sekeping Hati Yang Dia Bawa Pergi

Sekeping Hati Yang Dia Bawa Pergi
Sore itu, secangkir kopi susu panas menemaniku duduk bersantai menikmati rintik hujan yang semakin lama semakin deras jatuhnya. Berteman lagu Setengah Hati Tertinggal dari Geisha, dengan alunan musik melow namun penuh ketegasan menambah khidmadnya caraku menikmati derasnya hujan. Sembari ku tirukan dengan bersenandung lirih, menjiwai makna terdalam dari lirik per-lirik lagu ciptaan Roby Satria/Ari Lesmana ini membuatku terasa ingin terbang flashback kepada beberapa bulan silam. Cermati liriknya, dan putar lagunya. Bagi kalian yang mempunyai bakat baper sejak kecil, aku pastikan lagu ini akan berhasil membuat kalian baper, berikut liriknya:
Ku menangis dalam hatiku
Mengingat dirimu tak seperti dulu
Seperti kosong dan sendiri
Mencoba pendam beratnya sepi
Bila ada cinta yang membuatmu merasa nyaman
Coba kau katakan, bila benar ada 
Lepaskan hatiku terlebih dahulu darimu
Jika tak lagi cinta tak apa
Pedih rasa hatiku
Melihat dirimu tak seperti dulu
Seperti kosong dan sendiri
Mencoba pendam beratnya sepi
Setengah hatiku tertinggal padamu
Bila ada cinta yang membuatmu merasa nyaman
Coba kau katakan, bila benar ada 
Lepaskan hatiku terlebih dahulu darimu
Bila ada cinta yang membuatmu merasa nyaman
Coba kau katakan, setengah hatiku tertinggal padamu
Jika tak lagi cinta tak apa
Jika tak lagi cinta tak apa
Tiba-tiba darahku mendesir, ingatan tentang suatu hal semakin kuat berada tepat di alam bawah tak sadarku. Orang asing yang datang dengan seribu cerita manis itu ternyata masih mendiami relung hatiku yang terdalam. Tidak, aku tidak boleh melemah dengan mengingat yang tidak perlu aku ingat. Terjadi peperangan batin di dalam hatiku untuk menolak perasaan yang perlahan menggerus logika. Sekuat apapun aku tolak, rupanya orang asing itu masih saja berusaha membuatku menari-nari girang di dalam kenanganku dan dia. Iya, sore itu dia datang bersamaan dengan jatuhnya hujan. Aku cubit pipiku pelan, sakit, bukan ini bukan mimpi. Bukan juga Khayalanku semata, seperti yang aku lakukan di hariku yang sudah-sudah untuk merenungi kepergiannya yang tidak aku harapkan. Bahagiaku kala itu melebihi bahagianya orang yang menang undian 100juta seperti sms pemberitahuan dari operator tipu-tipu yang sering kita terima meskipun kita tau bahwa sebenarnya SMS itu tidak benar dan hanya sebuah kesalahan. Dan dari situlah cerita kembali ditulis, oleh tokoh yang sama namun dengan iklim hati yang berbeda.
Tidak bisa dipungkiri, bila kita akan merasakan canggung luar biasa apabila menghadapi hal baru setelah sekian lama kita tidak terbiasa akan hal itu, seperti harus beradaptasi dengan perpisahan yang tiba-tiba padahal telah lama menjalin hubungan, atau harus memulai hubungan setelah sekian lama menjalani hidup sendirian. Benar-benar tidak ada yang instan bagiku, semua butuh waktu, butuh proses, bahkan untuk menjadi kuat setelah berminggu-minggu lemah karna kepergiannya saja juga membutuhkan waktu.
Siapa yang menghancurkan kenyamanan, dan siapa yang membangun kenyamanan? Karena membangun kenyamanan itu tidak semudah menghancurkan kenyamanan. Kenyamanan yang telah lama dibangun bersama, harus hancur begitu saja akibat kepergian yang tidak pernah salah satu pihak harapkan. Jadi, jangan coba-coba untuk pergi dari sisi seseorang yang sudah memberimu kenyamanan, kau tau apa efek setelah kepergian? Sekalipun setiap harimu adalah kesempatan, kesempatan yang kemudian akan datang untuk membangun kenyamanan kembali itu tidak akan pernah sama.
Lalu, pada suatu hari Tuhan menghendaki suatu kebetulan dan kembali mempertemukan, masihkah tersisa utuh kenyamanan yang pernah terbangun? Konyol sekali apabila kedatangan yang terlalu dini itu membahas tentang suatu kenyamanan. Siapa wanita di bumi ini yang mampu mempertahankan kenyamanan sendirian? Kenyamanan itu telah hancur berkeping-keping, menjadi puing-puing kekecewaan yang berserakan dimana-mana bersama kepergian.!
Bersama kepergian yang dia lakukan tanpa perasaan.
Aku tidak tau kenapa Tuhan kembali mempertemukan, mungkinkah Tuhan ingin memberitahukan bagaimana aku yang ternyata lemah ini harus berjuang melalui masa sulitku selepas kepergian yang dia lakukan? Menjalani hidup sendiri setelah terbiasa berdua dan bergantung kepada dia.
Atau dari pertemuan ini Tuhan ingin aku melihat seberapa tepat dia untuk tetap aku harapkan?
Cerita ini masih bersama hujan di awal tahun 2018. Dan bagaimanapun nanti endingnya, aku tetap yakin ketetapan Tuhan itu yang terbaik.
Jika hujan adalah kesedihan
Panas matahari adalah kebahagiaan
maka kita membutuhkan kedua-duanya
untuk melihat keindahan pelangi.


EmoticonEmoticon