Bila Pertemuan Berujung Perpisahan.!

Bila Pertemuan Berujung Perpisahan
Bukan tidak lagi jika harus melepaskan sesuatu yang sekian lama bersama adalah suatu hal yang sangat berat. Disitulah keikhlasan kita dalam merelakan sesuatu yang mungkin tidak menjadi bagian kita teruji. Siap tidak siap, mau tidak mau, ketika kita berada pada episode perpisahan atas kehendak Tuhan, maka kitapun terpaksa harus menjalaninya meski awalnya sangat luar biasa berat. Tetapi terkadang berakhirnya suatu hubungan menyebabkan terjadinya perdebatan sengit diantara keduanya, dan tidak jarang memicu tercetusnya perang status yang merajahi beranda media sosial (mungkin ini salah satu fungsi dari media sosial, menjadi tempat pelampiasan curhat dadakan, hihi). Pasca suatu hubungan berakhir, sebenarnya menyisakan 2 pilihan. Satu tetap menjalin komunikasi yang baik (seperti halnya sebelum menjalin hubungan) dan kedua adalah pergi menghilangkan jejak untuk menghapus kenangan. Bagaimanapun pilihan yang dipilih, saya rasa itu pasti terbaik bagi yang memilih. Karena sebelum memutuskan menentukan pilihan, pastinya sudah tahu langkah apa yang harus ditempuh serta konsekuensi apa yang akan diterima nanti. Ada beberapa orang yang memilih untuk tetap menjalin komunikasi yang baik, selayaknya sebelum menjalin hubungan dan akhirnya berpisah. Hal ini bisa saja terjadi, yang menurut saya karena perpisahan keduanya tidak menimbulkan konflik yang menyakitkan. Namun tidak sedikit pula yang memilih pergi untuk menghapus kenangan. Yaaaaa walaupun terkadang keputusannya pergi itupun dilakukannya sepihak. Saya rasa yang demikian itu dilakukan supaya tidak memperburuk keadaan, iya keadaan dia sendiri, hehee. Dia yang memilih pergi, kebanyakan melakukan aksi yang terkadang dipandang kekanak-kanakkan oleh orang dewasa, yaitu salah satunya dengan memasukkan ke dalam daftar hitam semua akun media sosial mantan alias di blokir (pernah jadi korban blokir yang terisolir). Tidak hanya disitu, semua akun media sosial mantan di blokir, di unfoll, di unfriend, namun masih saja nekat stalking dan entah dengan akun media sosial yang mana lagi, (ciaaa ciaaa, pengalaman). Sebenarnya memang tidak ada yang salah dengan stalking, tapi catatannya adalah kita kuat membaca status mantan yang terkadang terkesan berpura-pura bahagia/mengkuat-kuatkan. Ingat yaaa, dia stalking kita itu suatu hal yang lumrah, biarkan saja kalau dia masih mau mencari tahu soal kita, tetapi kesalahan besar terjadi pada kita apabila kita tidak stalking si mantan namun justru masih suka membicarakan dia kepada siapa saja. Rugi besar woooiii, nggak ada untungnya sama sekali. Duhhh, apalagi sampai berbalas status dengan si mantan, tobat gaes tobat, ini jaman kita tidak lagi selevel ABG-ABG kekinian. Hahahaha. Kacau-kacau.
Kembali pada pertemuan yang berujung perpisahan. Suatu hal ketika seseorang memutuskan pergi dengan sengaja dari hidup kita, kita tidak perlu mengejarnya lagi. Bukan karena seseorang itu tidak lagi penting buat hidup kita, tapi percayalah, apabila seseorang itu menginginkan kita ada dihidupnya, maka dia akan tetap tinggal dan tidak memilih pergi (termasuk tidak memblokir kontak akun media sosial kita, hihi). Kalaupun dia keukeuh menginginkan untuk pergi, kita bisa apa kecuali merelakannya. Memang sih hal itu akan menyakitkan, namun anggap saja kepergian yang dia lakukan itu layaknya kematian (cinta juga bernyawa, jadi bisa saja cinta itu mati). Selepas kepergian itu kita akan mengalami masa-masa berkabung, disitulah fase kegalauan yang hanya diri kita sendiri yang mampu mengontrol dan melewatinya dengan baik-baik saja atau malah sebaliknya. Wajarlah jika sementara kita terbelenggu dengan bayangan-bayangan setelah kepergian. Bukankah memang seperti itu proses adaptasi layaknya ditinggal pergi karena kematian? Sekali lagi cinta punya nyawa, cinta juga bisa mati. Semua dari-Nya akan kembali kepada-Nya bukan hanya sebatas slogan. Termasuk dalam hal mencintai seseorang. Tak perlu risau perkara kepergian. Tugas kita hanya menjadi makhluk sebaik makhluk, memberikan yang terbaik dan menerima kehendak Tuhan.
Tidak ada yang keliru jika pada akhirnya pertemuan berujung perpisahan. Yang perlu kita ketahui bahwa tidak akan ada yang kekal di bumi ini. Kenyataan terburuk dari sebuah pertemuan adalah perpisahan, seperti kata pepatah "Setiap ada pertemuan pasti ada perpisahan". Tuhan menghendaki suatu perkara bukan tanpa alasan. Jadi percaya saja kepada sebaik-baik pengatur di bumi ini.!
Ketika Tuhan mengambil emas yang kita miliki, maka DIA akan menggantinya dengan berlian. Begitu pula, ketika Tuhan memisahkan suatu yang baik dari diri kita, maka DIA akan menggantinya dengan sesuatu yang lebih baik. Yakini ini.!

Komentar

  1. Saya ndak sempat baca tapi saya suka

    BalasHapus
  2. Benar sekali, ada maksud yg lbh indah dari setiap perpisahan.. Dan aku sedang menunggu itu...

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

9 Tips Membangun Kedekatan Orang Tua Dengan Anak Remajanya

11 Kreasi Bekal Makanan Untuk Si Kecil