Senin, 15 Januari 2018

5 Cara Merekatkan Hubungan Ayah Dengan Anak

Merekatkan Hubungan Ayah Dengan Anak
Beberapa hari yang lalu saya membaca story tante saya di whatsap mengenai ”Super Daddy”. Iyalah, saya tau sendiri bagaimana suami tante saya begitu menyayangi anak-anaknya dan berusaha berperan menjadi sosok ayah yang baik dengan berbagai cara yang menyenangkan untuk merekatkan hubungan dengan anak-anaknya.  Postingan story tante saya itu kurang lebih berisi kalimat seperti ini: Figur Ayah adalah figure cinta pertama bagi anak-anak perempuannya dan figure pahlawan (hero) bagi anak laki-lakinya. Oleh karena itu, peranan seorang ayah dalam pola pengasuhan dan perkembangan anak sama pentingnya dengan peranan ibu. Nah, disini saya menarik garis besar bahwa pola mengasuh anak tidak semata-mata menjadi tugas seorang ibu saja. Di zaman seperti sekarang ini, sudah tidak musim jika terlalu melekatkan persepsi bahwa seorang lelaki dalam rumah tangga tugasnya hanya bekerja, dan seorang perempuan dalam rumah tangga tugasnya hanya berdiam diri di rumah dan mengasuh anak. Kerjasama yang bagus dari kedua orang tua sangat diperlukan dalam rumah tangga untuk menghadapi zaman yang semakin hari semakin canggih. Peran ayah juga sebagai pengganti peran ibu. Apa yang ibu lakukan juga bisa dilakukan oleh ayah tanpa harus membeda-bedakan tugasnya. Melihat begitu pentingnya fungsi ayah dari sudut pandang anak-anaknya, maka sangat penting seorang ayah meningkatkan kerekatan hubungannya dengan anak. Untuk itu, dalam artikel ini saya akan berbagi beberapa cara yang bisa dilakukan oleh para ayah untuk Merekatkan Hubungan  Dengan Anak:
  1. Merekatkan Hubungan Ayah Dengan Anak bisa dengan melakukan pekerjaan yang dipandang oleh masyarakat hanya ibu saja yang harus melakukannya. Misalnya mengganti popok ketika anak terjaga dari tidurnya (apabila anak masih bayi), membuatkan susu ketika si ibu tidur terlelap, mengantar anak ke kamar kecil atau membacakan buku cerita supaya anak tertidur lelap. Dan bukan hanya itu saja, bolehlah ayah menggantikan tugas ibu untuk memandikan anaknya yang masih kecil sambil bercengkerama dan bercanda, kemudian memakaikan baju lalu mengajaknya sarapan. Hal ini bisa dilakukan ayah di rumah supaya hubungan  dengan anak semakin terjalin.
  2. Cara berikutnya untuk Merekatkan Hubungan Ayah Dengan Anak. Salah satunya dengan mengantarkan anaknya ke sekolah. Pengalaman menjadi seorang ayah dengan anak pertamanya mungkin akan memberi sedikit gambaran betapa pentingnya kedekatan antara ayah dan anaknya. Misalnya , setiap kali seorang ayah pergi kerja atau pergi jauh yang memakan waktu beberapa hari, anak pertamanya selalu saja mengalami demam. Tetapi setelah ayah ini mengantarkan anaknya ke sekolah, anaknya tidak pernah lagi mengalami demam musiman. Bahkan anaknya semakin dekat dan lengket kepada ayahnya yang sebelumnya masih kelihatan takut-takut. Mungkin jika dipikir dengan logika, tidak masuk akal sekedar mengantarkan ke sekolah bisa mengusir demam dan merekatkan hubungan dengan sang anak. Untuk demam musiman, memang hanya mitos hubungan ayah dengan anak. Tetapi, kalau soal mengantarkan anak ke sekolah bisa merekatkan hubungan emosional tentu ada sebabnya. Ketika mengantarkan anak ke sekolah ayah dan anak dapat melakukan komunikasi yang efektif dan bermutu. Komunikasi yang bermutu itu bukan hanya merekatkan hubungan, tetapi juga akan memberi efek psikologis pada diri anak. Sejalan dengan itu, komunikasi yang bermutu akan membuat anak mempunyai mental, kepribadian bahkan fisik yang tangguh.
  3. Cara ketiga untuk Merekatkan Hubungan Ayah Dengan Anak bisa dilakukan dengan melakukan pertemuan yang bermutu. Untuk mewujudkan pertemuan yang efektif dan bermutu, terlebih dahulu lihatlah usia anak, tingkat perkembangan dan taraf kematangan anak. Sesibuk apapun aktivitas seorang ayah, pertemuan bermutu ini penting untuk dilakukan. Nah, perlakuan untuk anak usia prasekolah dan sekolah Taman Bermain, kelas 1 sampai kelas 4 Sekolah Dasar, pertemuan bermutu yang dilakukan pada dasarnya bermuatan permainan. Sedangkan untuk usia pra-remaja kelas 5 Sekolah Dasar sampai kelas 9 sekolah menengah, seorang ayah harus menempatkan diri sebagai fasilitator dan motivator.
  4. Merekatkan hubungan ayah dengan anak bisa dilakukan njuga dengan mengajak anak untuk bermain. Dunia anak adalah dunia bermain. Lewat bermain seorang anak bahkan dapat mempelajari sesuatu. Jean Piaget mengatakan bahwa kegiatan bermain dapat merangsang perkembangan kognisi anak. Bersamaan dengan perkembangan kognisi, tahapan bermain anak biasanya dimulai dari tahap sensori-motorik, simbolik (bermain khayal), hingga tahap bermain sosial dengan peraturan. Namun yang perlu diperhatikan dari cara ini adalah alat permainan yang disediakan. Bila anak masuk dalam usia pra-sekolah (3-4 tahun), sediakan saja boneka, robot, menara gelang dan papan mozaik sederhana, papan pasak sederhana, lembar berwarna-warni (untuk mengasah motorik halusnya) atau mendongeng untuknya. Bila anak masuk  usia sekolah (5-8 tahun), bisa dengan mengajak bermain peran/pura-pura, games, da puzzle ringan, papan hitung sederhana, atau permainan rancang bangun bisa dilakukan. Untuk anak usia pra-remaja (9tahun keatas), bisa mulai mengajak anak bermain papan catur, monopoli, dan puzzle.
  5. Cara terakhir untuk merekatkan hubungan ayah dengan anak adalah dengan menjadi Kawan Diskusi. Meski bisa dilakukan untuk anak berbagai rentang usia, aktivitas ini lebih cocok dilakukan untuk anak pra-remaja (9tahun keatas). Untuk anak usia pra-sekolah dan yang sudah sekolah, si ayah dapat mengajak anak melatih kemampuan visual-spasialnya dengan mengamati lingkungan di luar rumah, anak belajar mengenali - sekaligus melatih pengetahuan, berbagai tempat dan benda di luar rumahnya. Sambil mengantar ke Taman bermain atau Taman Kanak - Kanak dan berpergian kemana saja tunjukkan serta latihlah kemampuannya mengengenali, misalnya kendaraan bermotor, pom bensin, atau rambu dan lampu pengatur lalulintas. Berbeda dengan anak yang sudah memasuki pra-remaja. Sesuai dengan perkembangan intelektualitas dan emosinya- mulai pandai bicara, kritis, dan mulai memasuki masa puber - berdiskusi adalah cara paling efektif merekatkan hubungan dengan mereka. Bisalah dicoba untuk menanyakan dan berdiskusi berbagai hal, tentang sikapnya dirumah atau soal dunia remaja yang sedang tren. Bersikaplah sebagai pendengar, kawan dan fasilitator yang baik. Karena masa puber - peralihan dari kanak ke remaja - ini adalah masa kritis. Jika orang tua tidak mampu memenuhi kebutuhan psikisnya, bukan tidak mungkin anak akan mencari figur yang lain.
Baca Juga Artikel Terkait Untuk Menghadapi Anak Yang Mulai Memasuki Masa Remaja : 9 Tips Membangun Kedekatan Orang Tua Dengan Anak Remajanya
Begitulah beberapa pemikiran saya mengenai  cara merekatkan hubungan seorang ayah dengan anak yang bisa diterapkan oleh para ayah. Jangan hanya terpaku dengan pemikiran bahwa seorang ayah hanya bertugas mencari nafkah saja. Zaman sekarang sudah mulai kurang pas jika menganggap seorang ayah hanya mempunyai satu tugas yaitu bekerja. Seorang anak yang hidup di zaman modern seperti ini membutuhkan figur seorang ayah untuk menemani dan membimbing anak dalam mengikuti arus globalisasi. Disitulah peran Ayah dituntut menjadi sosok panutan yang besar dalam sebuah keluarga, dengan mengemban tugas Sebagai Panutan hendaknya seorang ayah menerapkan sikap yang baik sehingga menjadi suri tauladan yang baik pula untuk anak-anaknya. Maka dari itu, merekatkan hubungan ayah dan anak bahkan sedari dini itu sangat diperlukan. Siapa lagi yang di contoh oleh anak kalau bukan orang tua terutama ayahnya?

1 komentar so far

Barakallah,,mudah"an mengikuti syar'i pemikirannya.


EmoticonEmoticon