Selasa, 12 Desember 2017

Mengenal Wajah Trenggalek Lebih Dekat (Karna Hidup Banyak Rasa)

Alun-Alun Trenggalek
Car Free Day Alun-Alun Trenggalek
Kabupaten Trenggalek - Perkenalkan dulu Partner Kerja saya yang cantik jelita, berdomisili di Trenggalek dan ketika tulisan ini saya buat namanya saya rubah menjadi IRIN. Hahahaa. Kenal kami kira-kira masih sekitar satu tahunan lebih sedikit, seumuran dengan masa bakti saya di tempat kerja. Kira-kira dulu dia masuknya kerja juga hampir bareng sama saya. Awalnya sih kami nggak terlalu dekat, dan tidak punya rencana mau sedekat ini. Lama-kelamaan nggak tau juga hal apa yang bisa bikin kita jadi dekat. Tapi yang paling saya ingat, kedekatan ini bermula dari ketika dia datang kerumah saya pinjam buku statistika, dianter sama cowok keren yang hobbynya touring, terus besoknya di tempat kerja saya ciee-ciee in dia (ciiee dianter cowoknya ciee), dan tiba-tiba dia curhat ke saya soal cowoknya itu. Hahahaa. Nah, mulai dari itu kedekatan terjalin, kita sering komunikasi lewat chat dan kadang juga telvon-telvonan sambil curhat-curhatan gituuu. Kebetulan saya pun waktu itu punya bahan untuk di curhatkan.
Selain mempunyai kisah asmara (eaaak) yang hampir sama, kita juga mempunyai kesamaan-kesamaan yang lain, sama- sama anak bungsu, nomer tiga, pekerja keras, mandiri, suka dimanja, pecicilan, suka mbolang, suka nongkrong, dan yang paling parah sama juga terjebak dalam cinta yang ruwet. Haduhh.
Rencana mau jelajah Kabupaten Trenggalek ini sebenarnya sudah di rundingkan jauh-jauh hari, sekitar sebulan yang lalu kayaknya. Tapi baru bisa terealisasikan dalam waktu dekat ini. Yaaa karena kami sama-sama orang sibuk plus sama-sama orang penting, (Sok yess banget sih):-D 
Sekitar satu jam perjalanan, dengan bermodal GPS di tangan saya berangkat dari rumah menuju rumahnya si cantik jelita. Dan ternyata saya keblabasan, yaaaa dengan berpegang pada prinsip ”kliru dalan mbalik” ketika berpergian membuat saya selalu berani mengambil langkah sesuai ketekatan hati ketika sendirian (Efek pernah kesasar di Malang). Lalu si cantik jelita meminta saya berhenti dan diapun menjemput saya, cus diajak kerumahnya langsung. Okee. Sudah sampai rumahnya, montor saya parkir, kita pun berangkat mbolang, keliling Trenggalek pukul 16.00.
Tempat tujuan pertama kita adalah salah satu masjid besar yang berada di Timur Alun-Alun Trenggalek, rencananya kita mau Sholat dulu sebelum meneruskan langkah. Dan yang paling lucu saat itu, sampe bikin temen saya geleng-geleng kepala yaitu ketika saya mau sholat saya menghadap arah kiblat yang salah. hahaha. Padahal arahnya kiblat  sudah jelas ditentukan disitu. Duhhh, bikin ngakak gila. Kenapa penyakit buta arah ini nggak hilang-hilang dari dulu sampai sekarang.



Selesai sholat, kami lanjutkan petualangan kami. Tempat kedua yang menjadi tujuan buruan kami hari itu adalah Green Park Trenggalek. Suatu tempat yang menurut saya tidak terlalu luas, namun strategis. Disana dilengkapi dengan berbagai wahana untuk bermain anak-anak dan terdapat toilet pula, meskipun tidak ada orang yang berjualan makanan didekatnya. Namanya juga Green Park Trenggalek, pastinya identik dengan taman yang dirawat sedemikian rupa oleh pengelola setempat, dan ditambah beberapa fasilitas-fasilitas yang menyokong untuk menambah  cantiknya tempat itu. Menurut saya Green Park Trenggalek ini cocok untuk berbagai kalangan usia. Bukan hanya wahana anak-anak saja yang mendukung didalamnya, disana juga terdapat beberapa gazebo dan tempat duduk-duduk sederhana yang akan membuat malam minggu kalian sempurna jika berada disini. Itu sih pendapat saya, yang bisa menikmati kebahagiaan yang sempurna dimanapun saya berada. Hehehehe. Tempat ini  tidak mentargetkan beli tiket masuk. Cukup bawa uang 2000rupiah saja untuk bayar parkir. Rekomended banget nih buat yang punya anak kecil dan mengajaknya mencari hiburan dengan cuma-cuma. 

Green Park Kabupaten Trenggalek
Rame banget waktu itu, mungkin karena malam minggu atau memang setiap sore rame seperti ini.
Green Park Trenggalek
Fasilitas bermain anak, dengan kreatifitas pengelolanya, di alasi pasir pantai yang putih bersih


Green Park Trenggalek
salah satu penampakan gazebo disana
 Green Park Trenggalek

Green Park Trenggalek
Kebahagiaan sederhana saya ketika bisa menikmati sunset seperti ini
Green Park Trenggalek
Senja yang selalu saya kejar-kejar karena menciptakan kedamaian tersendiri. (Dari Pengagum Senja)
Kami habiskan beberapa menit di Green Park Trenggalek, sambil ngobrol ngalor ngidul curhat tentang seseorang yang ada didalam hati kami masing-masing (ehhh emang punya? haha). Dan seperti kebiasaan saya yang selalu langsung glosoran nggak jelas tanpa takut kotor sama sekali, hari itu indah, beratap langit biru yang sempurna, ditemani senja tamaram yang menghangatkan hati dan jiwa kami yang rapuh. Tidak teras adzan maghrib memanggil kami untuk segera pergi beranjak dari tempat itu dan melaksanakan kewajiban, lalu nongkrong cantik di Alun-Alun Trenggalek.
Alun-Alun Trenggalek ini berada tepat di tengah-tengah Kabupaten Trenggalek. Dengan karakteristik dikelilingi oleh gedung-gedung penting pemerintahan setempat seperti Alun-Alun Kota lain pada umumnya. Di sebelah kiri terdapat masjid yang menurut saya sangat mempesona, megah dan terbangun dengan artistik yang luar biasa keren. Yang menambah point plus dari Kabupaten Trenggalek ini.

Masjid Besar Kabupaten Trenggalek
Masjid Andalan Kabupaten Trenggalek yang Mempesona dan membuat saya selalu merindu untuk datang kesana :-D
Alun-Alun Trenggalek
Nongkrong Cantik Di Alun-Alun Trenggalek (Ketika Pecinta Consina dan Pecinta Eiger Bersatu)
Alun-Alun Trenggalek
Ketika Pecinta Consina dan Pecinta Eiger Bersatu :-D
Puas nongkrong cantik di Alun-Alun Trenggalek, petualangan ini ditutup dengan nongkrong di Cafe Cengkeh. Yaaaa saya sebagai tamu pastinya dijamu secara baik oleh si cantik jelita ini, selain dapat traktiran makan gratis, saya juga mendapat pengalaman baru bisa rasain nongkrong di cafe (Biasanya nongkrong di alam bebas ataupun warung kaki lima kadang juga warung kopi). Cafe Cengkeh ini saya rekomendasikan kepada anak muda yang bingung cari tempat  buat tongkrongan, dengan dilengkapi  desain tempat  bernuansa klasik dan terdapat pojok baca (berdasar pada penilaian saya sendiri melihat kursi sudut didekat lemari yang tertata buku-buku rapi) akan menambah sempurna acara tongkrongan kalian, walaupun saya yang nggak biasa nongkrong di cafe sangat terkejut ketika melihat harga menunya. Bukannya pelit sih, tetapi dalam urusan makan dan nongkrong saya lebih perhitungan serta agak selektif (menyesuaikan tebalnya kantong). Hehehee. Tapi karena yang mau nraktir maksa banget, jadinya saya tetap mau-mau saja.
Penampakan Cafe Cengkeh dari dalam.
Tidak berhenti di Cafe Cengkeh. Sesuai janji dan kesepakatan yang telah kami rencanakan, keesokan paginya kami bangun pagi-pagi dan cuss Alun-Alun Trenggalek untuk ikut Car Free Day yang diselenggarakan setiap Minggu Pagi. Ternyata rame juga, apalagi ditambah ada kegiatan senam ibu-ibu di Alun-Alun Trenggalek sebelah utara (arah menurut saya). Dengan PD-nya kami mengikuti senam itu sambil cekikikan dalam setiap gerakan. Bikin ketawa terus kalau keingat itu. Bisa jadi pengalaman yang tidak akan terlupakan karna bisa bergoyang bersama ibu-ibu kece. Hahahaa.
Car Free Day

Ngikut Senam Ibu-Ibu Kece
Dan kemarin itu saya sempat ditegur oleh teman saya dengan chat yang berisi seperti ini: "Kenapa sih hidupmu serba di Trenggalek.?"
Padahal saya datang dan nongkrong lama di Trenggalek juga masih satu kali itu. Pastinya dia mengkait-kaitkan dengan suatu hal yang terjadi dalam hidup saya. Ahhhh Sudahlah. Lalu dengan santai saya jawab: "Aku kan memang hobby melanglang buana. Habis ini rencananya Blitar yang aku jelajahin (sambil aku kasih emotion sewot)" Hahahaaa. Gue mah gitu orangnya, biar yang nanya nggak jelas itu sebel baca jawaban saya atau emang dasar sayanya yang sentimen sama pertanyaan dia.
Terkadang yang tidak saya sukai dari seseorang itu adalah ketika mereka melihat sesuatu dari satu sisi saja lalu mengkait-kaitkan dengan suatu hal yang itu belum benar adanya dan kemudian mereka berspekulasi secara sepihak yang entah itu Negatif ataupun Positif. Tetapi bagi saya, apapun komentar yang terlontar dari mereka itu tidaklah penting (kecuali komentar yang membangun), yang terpenting bagi saya ketika saya tidak merugikan dan mengecewakan mereka itu sudah cukup bagi saya untuk menjalani hidup. Saya ada buat Mereka, sejahat dan sekejam apapun mereka kepada saya.!
Terimakasih Trenggalek dan Si Cantik Jelita (Pecinta Eiger) yang menyambut saya dengan sangat baik.





EmoticonEmoticon