Selasa, 26 Desember 2017

Lomba Lintas Alam: Jelajah Bukit Walikukun 2017

Lintas Alam Bukit Walikukun
Personil Lintas Alam Pendaki Gunung Tulungagung
Lintas Alam – Sekitar kurang lebih 3 Minggu yang lalu sebelum pelaksanaan acara, saya ditanya teman apakah ikut Lomba Lintas Alam Jelajah Bukit Walikukun ini atau tidak. Saya ragu waktu itu, karena ada dua acara yang bersamaan pada hari H nanti. Ini adalah salah satu kegiatan yang dilaksanakan oleh Komunitas Pendaki Gunung Tulungagung, bukan salah satu, tepatnya salah dua, hehehe. Karena kubu satu berjuang menjelajah Bukit Walikukun, dan Kubu yang satunya berjuang mendaki Gunung Penanggungan. Disini saya menceritakan kubu yang berjuang dalam Lomba Lintas Alam Menjelajah Walikukun. Lomba Lintas Alam ini diikuti oleh 14 peserta sebelum menjadi 15 peserta karena ketambahan dadakan. Dengan rincian sebagai berikut: 1 Regu Putri (Asri, Elysa, Feni), 2 Regu Putra (Dicky, Pendik, Angga) dan (Rendy, Adam, Fafa), 2 Perorangan Putri (Mia dan Saya Sendiri), 4 Perorangan Putra (Jepang, Tito, Baba, dan Shifa). 
Bukit Walikukun ini terletak  di Kecamatan Boyolangu, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, berdekatan dengan Candi Dadi (Bukit yang dilewati jika akan berkunjung ke Candi Dadi), Candi yang merupakan peninggalan sejarah masa pemerintahan Majapahit dan menjadi salah satu situs icon wisata di Tulungagung. Dulu saya pernah berkunjung dan camping ceria juga bersama beberapa personil Komunitas Pendaki Gunung Tulungagung di Bukit Walikukun. Dalam rangka camping ceria pergantian tahun 2016 ke tahun 2017. Sudah hampir setahun berlalu, tetapi keindahan yang ditawarkan disana masih tetap sama. Bukit ini mempunyai ketinggian yang lumayan bersahabat untuk pendaki pemula maupun seseorang yang tidak hobby mendaki. Nihh saya rekomendasikan tempat ini menjadi salah satu destinasi campground menjelang pergantian Tahun baru nanti.!


Sebenarnya 2 hari sebelum acara berlangsung saya sudah mulai nggak enak badan, tetapi karena sudah terlanjur niat dan minat sayapun berangkat dari rumah. Acara Lintas Alam  ini diadakan tanggal 24 Desember 2017, tepatnya pada Hari Minggu. Jadi sabtu malam jam 20.00, saya berangkat menuju tempat start dimana acara dilaksanakan. Seperti kebiasaan saya yang sudah-sudah, tiap kali mau jalan izinnya ke orang tua selalu dadakan H-1 menit sebelum berangkat (jangan ditiru yaa nak, haha), dengan dialog berulang-ulang yang seperti ini:
Ibuk: “Arepe nyandi wis yahmene?” (Mau kemana sudah jam segini).
Saya:”Arepe nek Boyolangu.” (Mau ke Boyolangu).
Bapak:”Wis jarno, kok penging yo ora kenek, penting kegiatane wajar-wajar ae, ora aneh-aneh.”(Sudah biarin, dilarangpun tetep nggak bisa. Yang penting kegiatannya wajar, nggak aneh-aneh)
Saya:”Siap ndan” (Pamit, cium tangan bapak ibuk, langsung cuss berangkat dengan semangat).
Malam itu saya dan teman-teman sampai lokasi sekitar jam 22.00. Saya kira tempat startnya itu berada di bukit atau ditempat tinggi lah, ternyata ramalan dukun saya meleset, saya kurang sakti rupanya, kurang lama begadang biar dapat wangsit, tempat start Lintas Alam Bukit Walikukun berada di lingkungan rumah penduduk. Jadi kita mendirikan tenda di depan rumah penduduk. Kebetulan malam itu cuaca cerah sekali, bintang bertaburan dilangit semakin menambah semangat saya untuk mengikuti kegiatan ini. Ternyata peserta yang mengikuti Lintas Alam ini sangat banyak sekali, tersebar dari berbagai daerah, ada yang dari Kediri, Blitar, dan Trenggalek. Prediksi kita banyaknya peserta mungkin mencapai ribuan, karena nomor pendaftaran saya saja 2038. Hahahaha. Lihat nomornya saja sudah yakin nggak dapat juara, jangankan berharap dapat juara, bisa sampai finish dengan sehat saja sudah Alhamdulillah.
Lintas Alam Bukit Walikukun
Suasana Bercengkerama Malam Hari
Suasana malam membawa kedamaian yang selalu membuat keakraban pertemanan terjalin. bercengkerama dan banyolan yang tidak ada habisnya selalu menemani saat moment berkumpul seperti ini. Dan hal itu yang selalu membuat saya rindu untuk berkumpul bersama teman-teman komunitas ini.
Esok harinya, Jam 04.00 semua personil terbangun. Kita bergegas menjalankan kewajiban sholat shubuh dulu sebelum persiapan membereskan barang bawaan (kecuali saya yang tidak ikut sholat, lagi dapat diskon per-bulan). Kayaknya ini juga menjadi  salah satu letak kesalahan saya, saya sarankan kepada perempuan yang lagi datang bulan untuk tidak terlalu memaksakan diri mengikuti kegiatan sejenis Lintas Alam ini tanpa persiapan yang benar-benar matang. Karena akibatnya sangat menggangu perjalanan dan bisa jadi merepotkan teman seperjalanan. Kalau untuk mendaki gunung saja mungkin masih bisa dilakukan, karena mendaki gunung bisa dilakukan dengan lebih santai. Tidak seperti kegiatan Lintas Alam dimana kita dikejar oleh durasi waktu. Dan rute yang harus ditempuh dalam kegiatan Lintas Alam Bukit Walikukun ini berjarak 15KM dengan estimasi waktu 4 jam harus sudah kembali sampai pada tempat start.
Lintas Alam Bukit Walikukun
Persiapan Beres-Beres Barang
Lintas Alam Bukit Walikukun
Personil Perempuan, dan Mbak Mia Nggak ikut kejepret
Lintas Alam Bukit Walikukun
Udah sekelas Boy Band, hahaha.
Lintas Alam Bukit Walikukun
Dan ini dia nomor pendaftaranku, Kiat meredam lara hati kataku, hahaha
Sebelum diberangkatkan sekitar pukul 07.00 diadakan upacara pemberangkatan yang diisi sambutan-sambutan oleh ketua panita, kapolsek dan pembacaan kode etik terkait kegiatan Lintas Alam ini. Akhirnya tepat pada pukul 07.15 dengan dibacanya surat Al-Ashr bersama-sama kegiatan Lintas Alam diberangkatkan. Karena saya sebagai peserta perorangan, saya terpisah dari teman-teman komunitas (berjuang sendiri), hehheee.
Lintas Alam Bukit Walikukun
Komunitas Pecinta Alam Dari Panggul Trenggalek

Lintas Alam Bukit Walikukun
Yakin demi apapun, berjuang sendiri itu nggak enak apalagi dalam keadaan mengikuti kegiatan seperti Lintas Alam ini. Kita butuh teman untuk saling menguatkan. Kita butuh teman untuk saling berbagi. Kita butuh teman untuk saling mendukung dan bekerja sama. Dan akhirnya saya menyerah pada keadaan, saya tidak sekuat yang saya pikirkan. Setelah melewati Pos 1, dan nanjak sekitar 30menit, kepala saya pening, bumi berputar, rasanya seperti melihat bintang-bintang atau klemun-klemun seperti orang mau pingsan. Bukan mau lagi, tapi sudah hampir di penghujung pingsan. Akhirnya saya berhenti dan ditemani beberapa anggota komunitas yang kebetulan jalannya depan belakang sama saya. Saya menenangkan diri sebentar, mengatur nafas, serta berdoa dalam hati minta diberi kekuatan, lalu saya minum air putih sedikit. 
Lintas Alam Bukit Walikukun
Gambaran jalan menuju pos 1.
Lintas Alam Bukit Walikukun
Trakking menuju Pos 2, Nanjak Terus.
Setelah agak mendingan saya lanjutkan perjalanan bersama teman-teman. Saya tidak berani sendirian lagi. Selang trakking sekitar 15menit saja, ganti perut yang nggak bisa diajak kompromi, saya mual dan akhirnya muntah (akibat nggak sarapan). Haduh, ngrepotin orang lagi. Ini makanya saya berpesan buat perempuan yang mau mendaki atau berkegiatan outdoor lain yang memerlukan tenaga berlebih, mending dipikir dua kali jika kalian dalam keadaan datang bulan. Karena dalam keadaan datang bulan kondisi tubuh tidak seoptimal seperti biasanya. Kalaupun nekat tetap berkegiatan seperti itu, usahakan persiapkan fisik dengan baik, makan makanan bergizi, suplay vitamin, istirahat cukup (jangan begadang), minum penambah darah bagi penderita darah rendah, dan pemanasan sebelum berangkat (jogging atau senam ringan di rumah).
Dengan fisik yang selemah itu, apa yang saya pikirkan.? Saya mengeluh mau menangis dan ingin berhenti saja. Tetapi dengan tlaten seseorang didepan saya memberikan semangat dan memegang tangan saya pelan-pelan untuk tetap melanjutkan perjalanan (trakking nanjak lagi). Memang dalam keadaan seperti inilah peran partner perjalanan sangat diperlukan. Setiap tapak perjalanan saya hanya berdoa minta kekuatan, dan Alhamdullillah saya keluar dari penderitaan saya. Dengan bahagianya kekuatan saya telah terupgrade kembali, saya bisa trakking dengan normal tanpa merasakan mual, lemas dan lain-lain. Sekali lagi, disini saya sadari Berjuang Sendiri Itu Tidak Selamanya Enak dan Mudah apalagi dalam kegiatan outdoor  dengan kondisi fisik yang tidak stabil.
Lintas Alam Bukit Walikukun
Sabana Walikukun


Lintas Alam Bukit Walikukun
Masih bisa bergaya diatas Pos 2, hahaha
Mendekati pos 2, keadaan tubuh saya justru semakin membaik, kembali ceria, kembali banyak ngomong, dan kembali sehat 100%, Alhamdullillah. Kegiatan wahid yang tidak boleh terlupakan adalah foto-foto dalam setiap perjalanan. View yang kita temukan sepanjang perjalanan betul-betul memanjakan mata. Hampir saja saya nggak bisa menikmati view seindah itu jika saya benar-benar menyerah dengan keadaan dan harus berhenti di tengah jalan. Ada satu tempat yang  saya sukai karena sangat sejuk meskipun cuaca panas pada saat itu, kita sebut saja sabana walikukun, karena sudah hampir mirip mirip dengan sabana merbabu, menghijau dan menyejukkan. Waktu terus berjalan. Sampai pos 2 saja perjalanan kita sudah jam 10.00 lebih. Sepertinya kita memang tidak bisa mengejar ketepatan waktu. Ada juga beberapa teman yang mengalami kram kaki, sehingga kita harus banyak beristirahat.
Setelah dari Pos 2, kita mulai trakking di dataran rendah sekitar 30 menit. Ada satu teman perempuan yang dua kali mengalami kram kaki namun dia tetap menguatkan untuk sampai finish. Padahal untuk menuju Pos 3, kita harus trakking nanjak lagi. Tetapi dia tidak menyerah. Dia tetap semangat, dia tidak mau di evakuasi, katanya "Masa aku naik mobil sendiri sedangkan teman-temanku jalan kaki, aku masih kuat.!". Dan benar, diapun bisa sampai finish bareng-bareng sama kami.
Lintas Alam Bukit Walikukun
Tanjakan Menuju Pos 3.
Keindahan sepanjang jalan yang kita temui. Menuju Pos 3.
Trakking menuju Pos 3.
Sesampainya di pos 3, waktu sudah menunjukkan jam 11.00 lebih. Dan kitapun sepertinya sudah tidak bisa mengejar kategori ketepatan waktu. Namun hal ini tidak menyurutkan langkah kaki kita untuk berhenti. Kita tetap berjalan sampai tempat finish, profesional dong, namanya juga Lintas Alam. Hahahaa. Meskipun kita sempat beristirahat lumayan lama, dan sambil makan siang hasil rampokan nasinya panitia yang kebetulan melewati tempat kita istirahat (bukan rampokan, tetapi dikasih cuma-cuma oleh panitianya, mungkin kasihan lihat kita, sudah seperti orang nggak makan 3 hari, hahaha). Akhirnya perjalanan yang kita lakukan dengan santai, sekitar pukul 12.30 kita sampai kembali di tempat start yang juga menjadi tempat finishnya. Bagi kita nggak apa-apalah nggak bisa meraih juara ataupun kemenangan. Kita tidak seberambisi itu, apalah arti kemenangan jika untuk meraihnya harus meninggalkan beberapa teman dengan kondisi yang tidak memungkinkan. Rasa persahabatan dan kemanusiaan kita lebih besar dari sebuah kemenangan. Insyaalloh lain kesempatan, Kemenangan pun bisa berpihak kepada kita. Aamiin.


Makan hasil pemberian cuma-cuma dari panitia, haha.


Sejauh apapun langkah kakimu pergi, jangan lupa bawa sampahmu kembali.!
Bagaimanapun juga alam pun ingin disayangi..
Supaya anak cucu kita bisa ikut menikmati..
Keep Traveling dan Mari Sayangi Lingkungan!


EmoticonEmoticon