Menikah itu Didasari Rencana, Bukan Mendasari Bencana.

Menikah-didasari-rencana-bukan-mendasari-bencana
anak korban brocken home
Di era digital seperti sekarang ini Pernikahan Dini masih dinilai menjadi salah satu faktor pemicu meningkatnya angka perceraian dalam dekade waktu terahkir. Banyak hal yang dibawa-bawa dan dijadikan kambing hitam alasan akhir sebagai jalan menuju perceraian. Salah satu alasan yang saya dengar dari banyak alasan yang dikemukakan oleh para pelaksana pernikahan dini itu adalah “ketidakcocokan” dari kedua belah pihak, namun hal itu justru membawa pemikiran mendalam bagi saya dan membuahkan hasil pertanyaan-pertanyaan yang entah siapa bisa menjawabnya.

Pertanyaan-pertanyaan yang keluar dari lubuk hati terdalam saya itu adalah bagaimana cerita awal mereka memutuskan menikah jika diantara keduanya berujung pada ketidakcocokan? Landasan apa yang dipakai mereka saat itu? Motivasi apa yang menguatkan untuk menyegerakan membangun bahtera rumah tangga jika pada akhirnya mereka menyerah pada cobaan lalu mengkambinghitamkan ketidakcocokkan? Bukankah hidup memang selalu disertai dengan banyaknya cobaan yang menjadi tantangan tersendiri untuk diselesaikan bersama menuju ridhoNya? Apakah pernikahan diibaratkan hanya sekedar percobaan seperti membeli baju apabila tidak cocok maka halal untuk ditanggalkan?

Dan yang membuat saya terheran-heran dalam melihat fenomena perceraian itu ketika beberapa diantara mereka justru bangga dengan status baru yang diemban, entah itu hanya perasaan saya yang tergesa-gesa menyimpulkan karena hanya melihat dari satu sisi saja, atau memang pada kenyataannya beberapa diantara mereka itu benar-benar bangga dengan status barunya. Oh, Hanya mereka dan Tuhan pastinya yang tahu. Tidakkah mereka hanya bisa bangga tanpa memikirkan bagaimana perasaan buah hatinya? Atau apakah bagi beberapa diantara mereka menganggap bahwa perceraian merupakan trend saat ini supaya dibilang kekinian dan patut untuk dilaksanakan? Kalau memang hal itu yang benar terpikirkan oleh beberapa diantara mereka, maka menurut saya memutuskan untuk mengambil langkah tidak menikah itu justru lebih baik, daripada akhirnya harus menyakiti buah hati yang tidak tau apa-apa dengan adanya perceraian yang terjadi. Apalagi hingga membuat buah hati terlantar dan merasa sangat kurang kasih sayang dari kedua orangtuanya.

menikah-didasari-rencana-bukan-mendasari-bencana

Bukankah selama kita hidup di dunia ini sudah terlalu banyak menimbun dosa, baik dosa kecil ataupun dosa besar, dosa masalalu ataupun dosa masakini, dan bagaimana jika ketidakmampuan mengasuh buah hati yang terlahir fitrah dengan status single parent membuat menambah dosa semakin bertumpuk dan bertumpuk?

Hey, kenapa beberapa diantara mereka tidak berpikir sejauh itu? Atau saya saja yang terlalu mendramatisir hal ini, sehingga terlalu jauh memikirkan suatu hal yang belum sampai dipikirkan oleh mereka?

Ah sudahlah!

Kalaupun memang menikah pernikahan dini adalah menjadi suatu keputusan yang telah/akan diambil, maka harapan saya kepada  calon orang tua  dan yang telah menjadi orang tua adalah tolong bertanggungjawablah sesuai dengan peran masing-masing. Seorang lelaki berperan dengan tanggung jawabnya sebagai imam dan ayah yang baik dalam memimpin rumah tangga, sedangkan seorang perempuan menjadi istri dan ibu yang bertanggung jawab menjaga rumahtangganya (suami maupun anak-anaknya) karena sejarah juga sudah menuliskan bahwa dibalik kebesaran dan kesuksesan seorang suami selalu ada sosok istri yang senantiasa setia dan tak lelah menjaga serta memberi dukungan dalam keadaan dan bentuk apapun. Seperti kisah yang bisa diteladani dari balik perjalanan hidup Nabi Muhammad terdapat Siti Khadijah, di balik kisah Nabi Adam terdapat Siti Hawa, di balik perjuangan Bapak Habibie terdapat Ibu Ainun dan bahkan di balik Bapak Soehartopun ada Ibu Tien.

Selain hal itu, peran kedua orang tua yang bertanggung jawabpun sangat membawa dampak serta kontribusi yang sangat besar bagi perkembangan psikis buah hati supaya kelak menjadi generasi bangsa yang bermoral, bermartabat, tercapai cita-citanya serta terhindar dari kenakalan remaja seperti yang sering terjadi dalam beberapa waktu ini..
#SaveGenerasiBangsa

2 Komentar untuk "Menikah itu Didasari Rencana, Bukan Mendasari Bencana."

  1. "bangga dengan status baru yang diemban" duda keren dan janda muda ngnu maksde?, wakakakak

    BalasHapus

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel