Kamis, 08 November 2018

Pentingkah Mengenal Pasangan Sebelum Menikah?

Mengenal Pasangan Sebelum Menikah
Sudah bukan menjadi rahasia umum lagi jika akhir tahun berubah menjadi bulan penuh pernikahan. Nah, hal itu juga berlaku di daerah sekitar tempat tinggal saya geis. Sampai akhir-akhir ini saya sering banget menggeluti aktivitas safari terop, alias berkunjung ke tempat pernikahan. Sepertinya, spesies jomblo banyak berkurang dalam kurun waktu terakhir tahun 2018 hingga beberapa bulan ke depan. Lalu bagaimana dengan mimin sendiri? Apa nggak mau melepas masa ke-singlelillah-annya, hahaa. Mau lah, mimin kan normal. Tapi melepas ke-singlelillah-an bukanlah suatu hal yang mudah dan bisa dilakukan dengan cepat secepat si buaya bilang jatuh cinta pada pandangan pertama, basi banget kan? Heuheu.

Lhaa, berhubung padat merayapnya acara pernikahan akhir-akhir ini, tiba-tiba mimin ketiban wangsit pengen membahas suatu hal yang penting diperhatikan sebelum memutuskan untuk melepas masa lajang. Apa sih hal terpenting yang perlu diperhatikan? Menurut saya pribadi, hal penting yang perlu dilakukan adalah Mengenal Pasangan Sebelum Menikah. Mengenal Pasangan tidak cukup dengan hanya tau nama dan alamat rumahnya doang yes, ada hal yang lebih detail dan sangat perlu untuk kita kantongi. Terlepas dari masalalu si pasangan, soal masalalu biarlah menjadi masalalunya. Kita tidak perlu kepoin masalalunya untuk Mengenal Pasangan.

Bagi kalian para single dan belum menikah, saya harap baca baik-baik tulisan saya yang kadang terkesan nggak jelas tetapi memang perlu untuk diperhatikan.

Menikah merupakan suatu hal yang paling serius dan diharapkan terjadi hanya sekali seumur hidup kita. Aamiin. Sekali salah melangkah untuk memutuskan menikah, maka konsekuensi yang terjadi sangat besar. Dan tentunya penyesalan akan datang terlambat, jadi kehati-hatian dalam mempersiapkan pernikahan itu memang penting, salah satunya yaa Mengenal Pasangan kita Sebelum Menikah. Jujur saja, pasangan yang menikah hanya bermodalkan cinta belum tentu saling mengenal satu sama lain. Apalagi seseorang yang menikah dengan alasan daripada nggak ada lagi, ada juga yang beralasan dikejar umur, atau yang lebih parah ketika kalian tau pasangan kalian tidak tepat tetapi masih tetap dilanjutkan menikah dengan alasan takut bikin orang tua kecewa (Jlebbb mimin sambil mewek ngetik yang terakhir ini).

Padahal jika direnungi lebih dalam lagi, orangtua akan lebih sedih saat melihat anaknya gagal dalam menjalani rumah tangga. Jadi menikah itu butuh persiapan matang untuk mengenal pasangan daripada persiapan pesta pernikahannya. Menurut kacamata saya pribadi mindset seperti "Nanti saja mengenal pasangan setelah menikah" itu terlalu klise diterapkan pada zaman yang seperti ini. Tidak sedikit juga seseorang yang sudah tau pasangannya salah tetapi beralasan "Kalau nanti setelah menikah pasti berubah". Serius??? Padahal KEBIASAAN MENENTUKAN MASADEPAN loh.
Berubah setelah menikah, ketidakmungkinan hal itu terjadi sepertinya lebih terlihat, kecuali kalian sebagai pasangan sangat menguasai ilmu tentang menangani pasangan dan mau banyak mengalah dan berkorban, baru mungkin pasangan kalian akan berubah.

Sebelum menikah, posisi masing-masing pasangan sangat berhak untuk berbicara mengeluarkan semua Uneg-Unegnya. Manfaatkan saat-saat seperti ini untuk mengatakan siapa sesungguhnya diri kita dan apa mau kita setelah menikah. Hal sepele seperti ini biasanya luput ketika kita sedang di mabuk-mabuknya cinta. Padahal Mengenal Pasangan Sebelum Menikah adalah hal terwahid yang sangat perlu diaplikasikan. Dari berbicara mengeluarkan uneg-uneg ini, kita bisa melihat bagaimana respon pasangan kita. Jika ada banyak hal yang kita inginkan tetapi sang pasangan tidak setuju, makaa Perlu Kita Pertimbangkan Ulang Untuk Menikah Dengannya. Karena ketidaksetujuan pasangan ini bisa jadi berjangka panjang dan menjadi siklus komunikasi yang sama dan berulang-ulang.

Kalau sudah memasuki tahap sejauh Mengenal Pasangan Sebelum Menikah, kita perlu mendengarkan kata Hati Nurani tanpa mementingkan perasaan kita sendiri. Dengarkan dengan baik Hati Nurani apakah kita yakin bahwa dia adalah orang yang tepat?

Mari coba kita renungkan hal ini bersama-sama. Sudahkah kita mengenal pasangan kita sebelum memutuskan untuk menikah?

Sabtu, 27 Oktober 2018

Pendidikanku Bukan Untuk Menandingimu

Pendidikanku Bukan Untuk Menandingimu
Sebelumnya rasa syukur miimin panjatkan kepada Alloh SWT nih, atas segala karuniaNYA akhirnya mimin bisa menyelesaikan study mimin tepat pada waktunya. Kenapa mimin mengambil judul artikel Pendidikanku Bukan Untuk Menandingimu? Tentunya ada sebab musabab didalamnya. Hehee. Nggak mungkin saya menulis sesuatu tanpa sebab yang mendorong saya akhirnya kembali bersemangat senam jari diatas keyboard lepi. Jadi begini, akhir bulan Mei tahun ini menjadi bulan yang sangat mendebarkan bagi mimin. Karena hari itu adalah petaruhan lulus dan tidaknya mimin untuk meraih gelar Magister Pendidikan. Cieeellaaahhhh. Tenang, penonton harap tenang. Setidaknya sampai detik ini, mimin selalu mengumpulkan bahan-bahan cerita yang nantinya akan mimin jadikan cerita bermotivasi untuk anak-anak mimin. Aamiin. Termasuk dalam hal menimba ilmu sekaligus berbagi ilmu.

Singkat cerita, 2 tahun yang lalu saya memberanikan diri keluar dari zona nyaman saya. Dan itu semua berkat dukungan moriil sekaligus materiil dari orangtua saya. Iya, 2 tahun yang lalu tepatnya tanggal 16 Agustus 2016 saya menjalani Test Masuk Pascasarjana IAIN Tulungagung. Sesuatu yang sebelumnya berada diluar bayangan saya. Meskipun tidak bisa dipungkiri sempat beberapa kali saya termotivasi juga dengan iklan Fair-Lo*elly yang mengusung Kalimat "NIKAH atau S2" dimana pada akhirnya di iklan tersebut si aktor lebih memilih lanjut S2 dulu sebelum menikah. Insyaalloh soal jodohpun akan menyusul dengan berjalannya waktu. Semakin bersemangat pula saya dalam memantapkan pilihan lanjut S2.

Sekali lagi kenapa artikel ini berjudul Pendidikanku Bukan Untuk Menandingimu? Selain untuk mengutarakan isi hati saya, artikel ini juga saya tujukan untuk menjawab kegalauan lelaki diluar sana yang memandang WAH wanita yang berpendidikan tinggi. Tenang mas, pendidikan tinggi kita bukan bertujuan untuk menandingi kalian. Kami tetaplah wanita yang sudah dikodratkan untuk menjadi makmum, dan kalian tetaplah pusat dari keberkahan hidup kami untuk menuju Surga Alloh. Jadi soal pendidikan, sama sekali jangan dipermasalahkan.

Sempat pada suatu waktu, di awal-awal permulaan perkuliahan dulu, ada seorang teman cowok yang menegur saya soal Pendidikan Tinggi seorang wanita. Lupa-lupa ingat, kala itu tegurannya berbentuk kalimat seperti ini: "Kalo mau lanjut kuliah mending nikah aja dulu lah, soalnya menurutku kalo kamu langsung ambil pasca dan kamu belom punya pasangan, cowok nanti bakal sungkan dan segan sama kamu, semacam ketinggian gitu loo, takut sama pendidikan kamu.”

*Kemudian sesaat saya mikir sebelum melemparkan jawaban*

Saya menuntut ilmu bukan untuk membuat orang lain merasa sungkan, segan atau gimana-gimana, melainkan karena keinginan untuk menggali potensi diri dan mengembangkan kemampuan berpikir, karena ada banyak pencapaian yang ingin saya raih dalam hidup. Dan akan lebih bahagia lagi saat saya menikah lalu mendidik anak-anak kelak dengan ilmu yang saya peroleh membuat mereka (anak-anak saya) berkata dengan senyum : “Aku bangga punya Ibu seperti Ibu”

Yaa pikirkan aja deh, meskipun menjadi Ibu Rumah Tangga itu terlihat sepele, namun ada banyak hal yang perlu diperhatikan agar keharmonisan dan kesuksesan dalam keluarga terbangun. Karena menjadi Ibu Rumah Tangga tidak sesederhana hanya berada didapur, memasak, berdandan, mengasuh anak, dan mengerjakan kegiatan rumah tangga sepenuhnya. Ada hal lebih dari itu yang tanpa disadari bahwa pendidikan juga mempunyai pengaruh yang begitu besar dalam urusan rumah tangga. Mengurus anak membutuhkan tenaga yang ekstra, tidak hanya menguras tenaga tetapi juga menguras pikiran. Begitupun dalam memasak, ataupun menata rumah memerlukan unsur seni dan kestabilan emosi, darimana kita bisa menyeimbangkan segala rasa jika tanpa pengalaman atau pendidikan. Walaupun tidak ada sekolah yang mengajarkan langsung bagaimana menjadi istri atau ibu yang baik. Tetapi lewat pendidikanlah pikiran wanita akan lebih terbuka dan terasah kreatif dalam mendidik anak kemudian terarah dalam mencapai tanggung jawab sebagai kodrat wanitanya.

Jadi sah-sah saja to jika seorang wanita memutuskan untuk mengenyam pendidikan tinggi, toh dalam islam diwajibkan pula untuk menuntut ilmu. Tetapi dalam penerapan ilmu tersebut  tidak boleh ditempatkan pada porsi yang salah. Karena semakin tinggi ilmu seorang wanita, maka seharusnya akan lebih tahu bagaimana syariat menjadi wanita yang baik dan benar. Selain itu, jika sudah menuntut ilmu dan seorang wanita mengambil satu langkah lebih maju untuk berkecimpung dalam dunia pekerjaan atau disebut dengan istilah Wanita Karir pada masa kinipun tidak masalah, selama tidak ada pihak yang dirugikan dan tidak melalaikan tanggung jawabnya sebagai wanita (Menjadi Anak, Istri dan Ibu).

Seperti dalam H.R.Bukhari : "Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggung jawaban atas yang dipimpinnya. Imam adalah pemimpin yang akan diminta pertanggung jawaban atas rakyatnya. Seorang suami adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggung jawaban atas keluarganya. Seorang isteri adalah pemimpin di dalam urusan rumah tangga suaminya, dan akan dimintai pertanggung jawaban atas urusan rumah tangga tersebut. Seorang pembantu adalah pemimpin dalam urusan harta tuannya, dan akan dimintai pertanggung jawaban atas urusan tanggung jawabnya tersebut."

Jadi untuk para wanita di luar sana, jangan ragu untuk memperoleh pendidikan yaa. Pendidikan tidak hanya diperoleh di sekolah saja kok. Dimanapun tempat yang bisa memberikan ilmu serta pengalaman baru yang berfaedah untuk kita, itu juga termasuk pendidikan.
Okeee. Semangat Memperoleh dan Berbagi Pendidikan.!

Sabtu, 25 Agustus 2018

REVIEW: Film KAFIR Bersekutu Dengan Setan

Review Film Kafir
Film Kafir
Film KAFIR- Holla Riders Blog Tri Wahyuni, ada yang suka nonton nggak nih? Suka sama film bergenre apa? Kalau mince sih suka sama film bergenre apapun ya, tergantung suasana hati aja. Heuheu. Tapi akhir-akhir ini mince lagi keranjingan sama Film Horor Indonesia nih. Dalam waktu dekat ini aja udah 2 kali nonton film bergenre Horor. Tapi nggak semua Film Horor masuk menjadi kategori film incaran saya, tetap pilih - pilih lah ketika menentukan film horor yang mau saya tonton. Seperti bulan lalu, saya sempatkan nonton Film Rasuk yang kemudian juga saya review. Mau tau bagaimana REVIEW Film Rasuk versi mince? Penasaran kan sama ceritanya? Klik link dibawah ini.
REVIEW: Film RASUK (Kecemburuan dan Kebencian berlebihan yang menyesatkan)
Lalu kali ini saya ingin mereview Film Kafir Bersekutu Dengan Setan yang salah satunya dilakonkan oleh Seniman sekaligus aktor idolah saya yaitu Mbah Sujiwo Tejo, yang berperan sebagai Jarwo si embah dukun kampung, Putri Ayudia sebagai Sri, Teddy Syah sebagai Herman, Rangga Azof sebagai Andi, Nadya Arina sebagai Dina adik Andi, Si Cantik Indah Permatasari sebagai Hanum yang ternyata tidak disangka sangka wajah baiknya justru menutupi perannya sebagai tokoh antagonis. Heuheu. Dan Tokoh Antagonis utama dalam film kafir ini adalah Nova Eliza yang berperan sebagai Laila ibunya Si Cantik Hanum.
Review Film Kafir
Potret keluarga
Review Film Kafir
Kejadian tidak terduga
Oke, pembuka dari film kafir ini menyajikan sebuah keluarga harmonis dalam suatu malam, dimana si bapak (Herman) sedang bermain piano menyanyikan lagu mawar berduri yang sudah di aransemen sebegitu rupa seakan mengajak para penonton untuk flashback pada era 90-an. Untuk memperkuat sisi keharmonisan keluarga, film kafir ini juga memanfaatkan diner table. Namun kejadian yang tidak pernah disangka terjadi ketika keluarga Herman melaksanakan makan malam. Tiba- tiba si bapak (Herman) tersedak kesakitan, muntah darah dan mengeluarkan beling dari mulutnya. Suasana suram pun seram mulai terasa. Apalagi disempurnakan dengan cuacanya yang sedang hujan badai disertai petir yang berkilat kilat, semakin membuat suasana kala itu sarat akan ketegangan.

Menurut saya, entah kenapa pada bagian awal film kafir ini membuat saya sekilas merasakan adanya unsur kemiripan dengan film pengabdi setan yang juga kebetulan saya tonton tahun lalu. Mungkin, hal ini disebabkan oleh efek setting waktu yang mengajak penonton untuk flashback pada tahun 90-an dengan menyertakan lagu lawas yang di aransemen. Selain setting waktu, setting tempatpun tidak luput dari perhatian saya, kedua film (film kafir dan film pengabdi setan) sama sama menggunakan rumah tua untuk menyempurnakan suasana keseraman. 

Lalu akhirnya untuk menjawab rasa penasaran akan perasaan saya, saya mencoba untuk googling dengan kata kunci "Film Kafir mirip Film Pengabdi Setan", rupanya mbah google-pun menjawab rasa kekepoan saya yang selalu tidak ada habisnya. Sebelum Film Kafir Bersekutu dengan setan ini rilis, beberapa artikel sudah mengulas tentang "Film Kafir dan Film Pengabdi Setan". Oke, jadi meskipun suasana yang diberikan oleh Film Kafir ini membuat saya teringat sama masalalu alias Film Pengabdi Setan, hal ini tidak membawa pengaruh besar hingga akhir cerita, mengingat jalan cerita antara kedua film ini berbeda. Wajar saja jika film horor Indonesia menggunakan setting waktu tempo dulu dan setting tempat rumah tua untuk memperkuat suasana keseraman, sah sah saja kan?

Setelah kematian misterius yang terjadi pada sang bapak, teror demi terorpun terjadi yang membuat psikis sang ibu (Sri) seperti terguncang. Bayangkan saja, suasana kesedihan akan kematian yang ibarat tanahnya saja belum kering alias masih merah, kemudian sang ibu mendapatkan serangan misterius yang seolah-olah hanya dianggap bentuk halusinasi ibu akibat kematian sang bapak oleh anak-anaknya. Seperti cermin yang sudah retak, dan dilempar batu oleh sosok misterius peneror keluarga itu, tetapi kita tidak tau siapa sosok misterius itu. Gila, benar benar gila, baru kali ini ketika menonton Film Horor Lokal, saya sulit menebak ceritanya, padahal biasanya saya udah persis seperti Si Embah Dukun Jarwo ini, bisa saja menebak cerita Film yang saya tontotn.
Review Film Kafir
Andi, Ibu, Dina, Dan Hanum
Pada pertengahan Film Kafir ini dimunculkan tokoh tokoh lain seperti tukang kebun yang terlihat kehororannya juga menurut saya (Orang pertama yang menjadi sasaran kecurigaan saya akan sosok misterius peneror keluarga Herman, dan ternyata meleset). Kedua,, dimunculkannya Sosok Si Embah Dukun Jarwo yang juga menjadi sasaran tebakan saya bahwa Embah Dukun ini yang melayangkan teror kepada keluarga Herman, meleset juga. Tebakan ketiga jatuh kepada Hanum (Pacar Andi yang dikenalkan kepada keluarganya setelah kematian Herman), saya ragu ragu sih menebak bahwa Hanum ini juga turut andil menjadi sosok misterius peneror mistis keluarga Herman, kalian bayangkan saja jika melihat wajah kalem Hanum, cantiknya, manisnya, lembutnya, anggunnya dan terlihat seperti perempuan baik - baik, nggak mungkin kan melakukan aksi kejahatan sekejam itu pada keluarga kekasihnya. Hahaa. Benar benar apresiasi luar biasa untuk penulis serta sutradara yang memilih tokoh dan alur dengan tepat, mengemas cerita yang mewujud pada kehidupan nyata bahwa JANGAN HANYA MELIHAT SESEORANG DARI COVERNYA SAJA. Heuheu. Sumpah, pelajaran pertama paling berharga dari film kafir ini menurut saya terletak pada sisi Hanum ini.
Review Film Kafir
Dina mencoba memecahkan misteri
Selanjutnya, karena rasa penasaran Dina (adik Andi) yang juga merasakan aura mistis meneror keluarga mereka terutama ibunya, diapun mencoba mengumpulkan kepingan puzle untuk menjawab rasa penasarannya. Apalagi ketika melihat sang ibu mengalami kejadian yang persis seperti dialami almarhum ayahnya, tersedak, muntah darah kemudian memuntahkan beling juga, rasa penasarannya bertambah besar meskipun tidak disambut baik oleh kakaknya (Andi). Diam diam Si Dina melakukan ekspedisi berbekal foto dan alamat rumah yang tertulis di belakang foto yang ia temukan. Lalu disisi lain, Si Ibu (Sri) mendatangi Embah Dukun Jarwo untuk menceritakan keanehan yang terjadi padanya serta keluarganya. (Nah, dari sini membuat saya semakin bertanya - tanya: "Sebenarnya siapa yang Kafir?").

Apalagi pada pertengahan film Kafir ini terdapat adegan dialog yang membuat Mbah Dukun Jarwo Berkata: "Apa yang membuatmu datang kesini setelah 20 tahun yang lalu Sri?" (Bagian inipun membuat saya sebagai penonton yang baperan tingkat tinggi teringat lagi kepada Film Pengabdi Setan, apakah Kafir yang dimaksud dalam Film ini adalah perwujudan sembah kepada Setan untuk mendapatkan anak seperti Pengabdi Setan yaa?). Oke, sekali lagi pemikiran dan tebakan saya SALAH BESAR. Hal ini dibuktikan dari jawaban Mbah Dukun Jarwo yang bilang kepada Sri bahwa keanehan yang terjadi pada keluarganya merupakan bentuk SANTET yang dilakukan oleh seseorang. Di bagian ini juga, Sri menyodorkan sebuah foto kepada Mbah Dukun Jarwo untuk melihat apakah orang didalam foto itu adalah pelakunya. Lalu tebak, bagaimana jawaban Mbah Dukun Jarwo? Benar, orang yang di foto tersebut merupakan pelaku teror mistis yang berupa SANTET pada keluarga Sri.
Review Film Kafir
Sri Melihat Jarwo Mati Terbakar
Kemudian, setelah Sri mendapatkan jawaban Mbah Dukun Jarwo bahwa teror mistis yang menimpanya adalah santet yang dilakukan oleh seseorang, hal itu membuat Sri geram, lalu ia meminta Mbah Dukun Jarwo untuk membalasnya. (Scene bagian ini benar benar membuat saya terbelalak karena terkejut, Oh My God Sriiiiii, kenapa kejahatan kau inginkan dibalas dengan kejahatan pula). Sebagai Dukun yang Profesional tentunya acara balas membalas bukanlah menjadi hal yang mengagetkan lagi buat Mbah Dukun Jarwo. Mbah Dukun Jarwopun mengiyakan permintaan Srii. Hal yang semakin mengejutkanpun terjadi, ternyata ilmu Mbah Dukun Jarwo tidak mampu menandingi ilmu santet lawan Srii, sehingga berdampak kerugian besar yang mempertaruhkan nyawa Mbah Jarwo melayang. Iyaaa, Mbah Jarwo Terbakar hidup hidup riders (Oh noooo, scene yang semakin membuat saya terbelalak sambil menutup mata dan mulut).
Review Film Kafir
Sri Berlarian setelah melihat
Jarwo Mati Terbakar
Sri syok melihat kejadian terbakarnya tubuh Mbah Dukun Jarwo hidup hidup didepan matanya. Kemudian iapun lari terbirit birit meninggalkan rumah Mbah Dukun Jarwo. Akhirnya dengan langkah gontai sampaiilah ia di rumah dan bertemu dengan Dina. Dina membersihkan baju ibunya itu lalu menyisir rambut ibunya (Adegan penyisiran rambut yang membuat saya kembali gagal move on sama Film Pengabdi Setan). Semakin hari tingkat depresinya Srii semakin menjadi-jadi, ia sudah persis seperti mayat hidup akibat ulahnya sendiri. Dan semakin hari pula Dina sudah menemukan kepingan puzle lalu menyusunnya, tinggal mengetahui jawaban atas apa yang telah terjadi pada ibunya. Dina pun dengan nekat mendatangi rumah Dukun yang kabarnya meninggal hidup hidup dan jenazahnya di tolak oleh warga kampung karena dianggap menjadi manusia Kafir yang sudah meresahkan orang lain selama hidupnya.

Pada Film Kafir ini saya sama sekali tidak menemukan sesosok hantu dengan dandanan hantu hantu khas Film Horor Indonesia, lalu kemunculannya ditandai dengan musik yang mengejutkan. Jadi sekali lagi, saya apresiasi untuk pembuatan film ini, dimana jalan ceritanya mengesampingkan efek kejut seperti Film Horor Indonesia pada umumnya, namun tetap membuat penonton tegang. Namun, satu hal yang menyita perhatian saya, mengapa intensitas hujan badai dan kilatan petir sangat mendominasi pada Film Kafir ini? Hmmmm, menurut saya hal ini membuat kesan kenaturalan Film Kafir menjadi terkikis. Seolah dibuat-buat untuk menciptakan efek menegangkan, lalu membuat penontonnya berimaginasi sendiri bahwa Hujan badai dan kilatan petir menjadi pertanda adanya masalah pada keluarga itu. Nggak asyik kan? Akhirnya kita bermain main pada imaginasi kita sendiri. Ohhhh, ataukah atmosfer yang dibuat menegangkan ini menjadi pengganti efek kejut yang dikesampingkan oleh penggarapnya?

Singkat cerita, ternyata sosok misterius peneror keluarga Herman dan Srii ini adalah Hanum dan ibunya (Laila). Jadi, Sri dan Laila ini adalah dua perempuan sahabat baik. Laila memiliki suami yang tampan, penyayang dan sangat disayanginya, ialah Herman. Ternyata diam-diam Srii mencintai Herman, kemudian menusuk Laila dari belakang, merebut Herman dari tangan Laila. Parahnya, Srii merebut Herman melalui bantuan pelet yang dikirimkan oleh Mbah Dukun Jarwo, ketika Laila sedang hamil tua. Tidak cukup merebut Herman saja, bahkan dengan tega Srii menginjak-injak harga diri Laila dengan menaburkan ratusan uang dikepala Laila. (Subhanalloh Srii, caramu menyakiti sahabatmu sungguh sangat sempurna. Bayangkan saja, bagaimana kalau kalian yang berada di posisi Laila, bisa saja melakukan hal yang lebih kejam dari Laila dong. Namun, sekali lagi, balas dendam bukanlah cara terbaik untuk membalas sakit hati, apalagi balas dendamnya terlalu ekstream. Kalau saya mah lebih memilih balas dendam dengan cara elegan, menjadi wanita sukses dalam segala hal misalnya. Aamiin. Heuheu).

Ending dari cerita ini, menurut saya "Nggak Banget" untuk menyempurnakan bagian awal dan pertengahan Film Kafir yang dari sudut pandang saya sudah sangat bagus. Terkesan konyol dan terlalu dibuat-buat. Terus, saya kurang menangkap sinkronasi antara judulnya KAFIR dengan isi cerita, heuheuu. Mungkin lebih pas lagi kalau judulnya SANTET yaa. Karena menurut saya, isi ceritanya lebih dominan ke dunia santet gituu. Overall, Film ini bukan sekedar Film Horor biasa, tidak mengecewakan dan saya lebih menyukai jalan cerita serta ending yang tidak menggantung dari film kafir ini yang digadang-gadang hampir mirip dengan Film Pengabdi Setan, meskipun penyelesain Film Kafir masih "Nggak Banget", tapi saya tetap Sukaaaaaa. Untuk penilaiannya, saya kasih nilai 8 dari 10.

Oke, sebagai penutup REVIEW: Film KAFIR Bersekutu Dengan Setan, seperti Revie-review saya sebelumnya, saya sisipkan statement sakti menurut saya pribadi, cekidot:
  1. Ketika Srii menebar uang diatas kepala Laila, terlihat kental kearoganan Sri bahwa uang bisa membeli segalanya termasuk CINTA. Oke, hari gini siapa sih yang nggak butuh uang. Uang bisa membahagiakan, juga bisa menghancurkan. Jadi gunakan sesuai porsinya saja lah. Nggak usah berlagak arogan menikung perempuan lain dengan merebut pendampingnya segala, ingat lo yaa, perempuan baik-baik nggak akan merebut pendamping orang lain. Nggak bisa cari yang lain apa? (Yess, author curhat, tenang Laila, dalam hal ini saya Tim Garis Kerasmu)
  2. Kejahatan dibalas dengan Kejahatan? FIX, nggak bakalan kelar. Kalaupun kelar itu hanya cerita di Film Film aja. Ataupun bisa juga kelar setelah mengorbankan seseorang. Lebih baik, ketika dijahati, pasang senyum terbaikmu, Balas dengan cara elegan. Meningkatkan kualitasmu dengan menekuni Hobbymu, menambah wawasanmu dengan mengeluti sesuatu yang mengedukasi, dan menjalani hari hari dengan berbagi. FIX, hidup akan terasa indah jika kita berbagi (Tapi bukan berbagi pendamping. Titik).
  3. Point terpenting: Segala sesuatu yang didapatkan dengan cara tidak halal dan tidak sportif tentunya menimbulkan ketidakbarokahan dalam hidup. Termasuk dalam hal mendapatkan pendamping. Yaaa, jadi siap siap saja Tuhan mengirimkan Karma TerbaikNYA. Karna yang menanam pasti akan menuai.
Sekian dulu yess REVIEW: Film KAFIR Bersekutu Dengan Setan dari author Blog Tri Wahyuni, kalau kalian punya Review lain, boleh dong ajakin saya ngrumpi berjamaah, tentunya kalian bisa menghubungi saya di alamat akun medsos yang tertera pada laman Contact saya. 

Selasa, 14 Agustus 2018

Perjalanan Solo Jogja yang Mengistimewa

Keraton Solo
Perjalanan Solo Jogja yang Mengistimewa- Holla, dua minggu yang lalu kantor tempat kerja mince mengadakan piknik bersama ke Jogja. Pikniknya bukan piknik sembarangan, pikniknya para ibu ibu berkantong tebal yang menjadi pengabdi negara. Hehehe. Kami sebagai pengabdi negara sepakat, bahwa dengan melakukan piknik membuat produktivitas dalam bekerja semakin baik. Bayangin aja, para pengabdi negara tersebut bekerja full selama 7 hari, berangkat pukul 07.00 dan pulang pukul 12.00. Dengan berbagai tugas yang harus dilakukan dan perlu tanggung jawab ekstra, tentunya hal itu sangat menguras tenaga maupun pikiran, jadi menurut saya tidak ada yang salah dengan kegiatan piknik bersama semacam piknik yang dilakukan oleh pengabdi negara di kantor tempat saya bekerja.

Nah, jika kalian semua merasakan ada yang aneh dengan diri kalian seperti mudah panik, sering galau, gampang marah, baperan, mendadak suka nyinyirin orang lain, susah konsentrasi dan sakit-sakittan melulu, FIX ini merupakan salah satu gejala kurang piknik.! Daripada gejala gejala tersebut berlanjut dan menjadi gejala permanen, lebih baik segera berkemas dan tentukan destinasi mana yang tepat untuk menjadi tujuan piknik.

Akhirnya sekelompok pengabdi negara di kantor tempat saya mengabdi pun memutuskan untuk menjadikan Solo dan Jogja yang mengistimewa sebagai destinasi liburan tahun ini. Berhubung salah satu bapak pengabdi negara di kantor saya ada yang merangkap profesi menjadi pegiat touring, membuat rombongan kita semua tidak kebingungan dalam menentukan destinasi dan rute perjalanan. Sekali dayung, dua, tiga pulau terlampaui. Bukan hanya sekedar refreshing untuk menghilangkan penat karna pekerjaan yang menghantam setiap hari, di destinasi tujuan kita, kita bisa berbelanja apapun tergantung keinginan dan budget yang kita punya. Jadi riders penasaran dengan destinasi liburan kita atau tidak? Oke, simak paparan cerita saya dimulai dari awal keberangkatan hingga perjalanan pulang.

Perjalanan ini dimulai dari saya yang dijemput oleh sopir travel yang ternyata adalah teman SMP saya sendiri. Karena dianya sudah tau rumah saya, dia tidak kebingungan lagi dan langsung berhenti dirumah saya pada hari Jumat 3 Agustus 2018 jam 23.45. Waktu dimana enak-enaknya tidur, mengharuskan dia terjaga untuk mengantarkan rombongan piknik kita. Akhirnya, setelah melalui prosesi ampir-ampiran/ nyamperin di rumah para pengabdi negara masing masing kita sepakat berangkat pukul 01.00 waktu Indonesia bagian Tulungagung. Serombongan kala itu ada 14 orang beserta 1 sopir travel yang kece badai. Haha.

Rute perjalanan yang rombongan kita lalui melewati Ponorogo - Magetan - Karanganyar - Wonogiri - Solo - Jogja (Berangkat dari Kota Tulungagung, Jawa Timur). Nah, rute perjalanan panjang untuk Solo dan Jogja yang Mengistimewa ini memang sangat mengistimewa. Dari rute perjalanan yang kita lalui, banyak tempat wisata dan pemandangan memukau yang memanjakan mata. Saya rekomendasikan rute perjalanan ini bagi para riders yang ingin berjalan - jalan santai dan tidak terdesak waktu, karena dari rute perjalanan ini banyak sekali ditemukan tempat - tempat wisata baik buatan maupun alam yang dikelola oleh pemerintah setempat.

Kala itu, rombongan kita sampai di Magetan sudah memasuki waktu shubuh. Jadi kita beristirahat sejenak di suatu masjid, melangsungkan sholat shubuh, ganti kostum dan berdandan. Selesai dengan aktivitas tersebut, Perjalananpun dilanjutkan, selang beberapa menit kita ditakjubkan oleh suatu tempat wisata yang terdapat spot foto berjajar di sepanjang jalan naik, serta warung-warung yang sudah ramai oleh pengunjung. Namanya Telaga Wahyu. Telaga Wahyu ini terletak di Kabupaten Magetan. Dan sayang sekali saya tidak sempat mendokumentasikan karena rombongan kita hanya lewat saja. Tidak lama setelah Telaga Wahyu, kitapun melewati tempat wisata fenomenal dan andalan Kabupaten Magetan, yaitu Telaga Sarangan. Untuk dokumentasi, mohon maap mince tidak mendokumentasikan tempat wisata yang rombongan kita lewati sekilas. 

Tidak hanya Telaga Wahyu dan Telaga Sarangan yang menjadi daya tarik wisata di Kabupaten Magetan, namun ada juga Cafe unik yang menyediakan spot berfoto beraneka ragam dengan nuansa klasik di dalamnya.  Sunrise samar - samar ketika itu menambah cantiknya panorama sepanjang jalan yang disuguhkan. Sesampainya di Cemoro Sewu, Pos Registrasi untuk menuju puncak Gunung Lawu rombongan kita akhirnya berhenti sebentar dan cekrek-cekrek di depan neon box tulisan Cemoro Sewu. 
Cemorosewu
Puas berfoto tiga kali jepretan, rombongan kita meneruskan perjalanan hingga melewati gapura perbatasan provinsi Jawa Timur dan Jawa Tengah. Tidak jauh dari Pos Registrasi Cemoro Sewu, setelah gerbang perbatasan, kita menemukan tempat wisata buatan yang bernama Bukit Sakura Lawu. Usut punya usut, Bukit ini dinamakan Bukit Sakura karena ditandai dengan adanya Bunga Sakura dari Jepang yang ditanam di Lereng Gunung Lawu, dan akan dikembangkan menjadi area ekowisata Bunga Sakura 5 tahun kedepan. Tapi sayang, kita tidak sempat berjalan - jalan menemukan bagaimana bentuk bunga andalan dari Negeri Matahari Terbit itu, karena kita terdesak oleh waktu.
Bukit Sakura Lawu

Bukit Sakura Lawu
 Bukit Sakura Lawu menawarkan spot foto beraneka ragam yang didesain unik oleh pengelola setempat. Hawa dingin di pagi hari yang menusuk tulang mendominasi suasana tempat itu. Jangan lupa siapkan sarung tangan, kupluk dan kaos kaki selain jaket yang sudah kita kenakan. Karena kita tidak akan pernah tahu seberapa tinggi derajat suhu di tempat dingin seperti di Lawu ini. Jadi semisal kita kedinginan, kita tinggal memakai perlengkapan yang sudah kita siapkan. Selain spot foto buatan, kita juga disuguhi oleh pemandangan alam yang amazing, menghijau khas hutan belantara. Terlihat juga, indian camp yang berjajar apik menambah istimewa Bukit Sakura sebagai Wisata Buatan.
Bukit Sakura Lawu
Gazebo Bukit Sakura Lawu
Indian Camp Bukit Sakura Lawu
Indian Camp
Karena rombongan kita terdesak oleh waktu, akhirnya terpaksa kita menyudahi kegembiraan bersua foto di Bukit Sakura. Kita kembali melanjutkan perjalanan menuju destinasi tujuan. Berangkat dari Cemoro Sewu jam 06.00, sampailah kita di Surakarta jam 08.30. Seperti yang saya bilang diatas, bahwa liburan kita kali ini adalah liburan shoping, alias berlibur sambil berbelanja, maka destinasi kita adalah BTCdan PGS. Tau nggak apa itu BTC dan PGS. Saya sendiri awalnya juga nggak tau kok. Maklum, saya belum bertualang sampai provinsi tetangga. Hehehe. Jadi BTC itu kependekan dari Beteng Trade Center yang merupakan salah satu pusat perbelanjaan di Solo dan menjadi incaran para penduduk lokal maupun non lokal karena terkenal harganya yang lebih bersahabat dengan kantong. BTC Solo ini dekat dengan PGS, yaitu Pusat Grosir Solo, jadi yang namanya Pusat Grosir, PGS ini menawarkan barang - barang yang bisa dibeli grosir tentunya dengan harga yang lebih murah. 
BTC
BTC Beteng Trade Cente 
PGS
PGS Pusat Grosir Solo
Apa saja sih yang dapat kita temukan di BTC dan PGS? Jawabannya adalah banyak. Terkecuali jodoh yaa. Hahahaa. Jangan ngarep nemuin jodoh disana, terus dibungkus pake daun dan dibawa pulang atau boleh dimakan diperjalanan. Sadar gess, emang nasi bungkus? Oke lanjut. Hmmmm, kalau saya pribadi sih kurang tertarik gitu yaa. Maklum, saya bukan type orang yang suka shoping. Hehe. Alibi orang nggak berkantong tebal nih. Tapi serius ini mah, saya nggak terlalu suka shopping. Alhasil, ketika pulang dari BTC dan PGS ini saya hanya dapat daster pesanan emak saya, dan celana batik saya. Di BTC dan PGS, kalian bakal nemuin seambrek pedagang yang menjual baju jadi, kain, tas, sepatu dan segala kebutuhan, termasuk pernak pernik tubuh ataupun rumah.
Naik Becak Solo
Naik Becak Solo
Perjalanan Solo Jogja

Kampung Batik Solo
Kampung Batik Solo
Ohyaa, yang menarik di Kota Solo ini, saya dan teman saya menyempatkan naik becak berkeliling museum dan Keraton Solo meskipun kita tidak sempat masuk ke dalam sana. Lalu abang becak menyarankan kita untuk mengunjungi Kampung Batik. Sumpah, menurut saya Kampung Batik ini diindikasikan buat kalian yang suka batik berkelas. Karena, batik batik di Kampung Batik ini kurang cocok buat saya si bukan kantong tebal. Hahahaa. Tapi di Kampung Batik ini menyediakan Batik dengan berbagai harga kok. Mau yang mahal, adaaaa. Mau yang sedang - sedang aja, adaaaa. Mau yang murcee alias murah cekali, Adaaa juga. Dan uniknya, Kampung Batik yang beberapa tokonya seperti berbentuk Butik ini menyajikan kegiatan Membatik Tulis dan Cap yang bisa dinikmati secara langsung oleh pengunjung. Alhasil, akhirnya saya bisa memegang canting beneran, mencium bau malam (bahan batik) yang masih anget-angetnya, dan mengetahui teknik membatik tulis maupun cap. Kerennn. Mengedukasi sangat. Jangan lupa kalau ajakin anak - anak, mampir aja ke Kampung Batik minta di anterin abang becak juga boleh. Hehhee.
Tumbuhan Klewer Pasar Klewer
Tumbuhan Klewer di Pasar Klewer
Pasar Klewer
Pasar Klewer
Bukan hanya BTC dan PGS yang menjadi sasaran rombongan kita berbelanja, kitapun tidak melalaikan untuk menyempatkan diri mengunjungi Pasar Klewer. Nahh, tambah bingung juga ni ketika sudah berada di Pasar Klewer karna banyaknya pilihan. Pasar Klewer ini identik dengan pohon pohon yabg berjajar di pinggir jalan dan "pating klewer", itu penuturan dari abang becak yang mengantarkan kami jalan jalan. Jadi penduduk setempat tempo dulu, menamainya menjadi Pasar Klewer. Pokoknya, kalau ke Solo, Pasar Klewer ini menjadi tempat wajib yang harus kalian jelajahi. Disana menyediakan berbagai barang barang yang di jual dengan berbagai harga. Harus pandai pandai menawar ya. Biar nggak keblocok kalo orang sini bilang. Hehee.

Setelah puas memilih belanjaan di Pasar Klewer, yang mana saya hanya dapat kalung tasbih untuk adik saya dengan harga yang cukup murah yaitu 10ribu rupiah, rombongan kitapun melanjutkan perjalanan ke Jogja. Tau kan destinasi mana yang menyajikan belanjaan dengan harga ekonomis sampai berkelas? Tentunya Malioboro dong. Kita sampai di Malioboro sekitar jam 17.30. Lalu kitapun berkeliling dengan grup masing masing, berburu kebutuhan hidup yang sudah tergambar dalam angan angan kami.
Malioborro
Kantor Gubernur Jogja
Malioborro
Suasana Malam Malioboro
Di Malioboro banyak hal yang saya temukan dan tentunya akan saya rindukan lalu saya jangkau kembali. Saya masih belum puas menikmati perjalanan di Malioboro ini karena terdesak oleh waktu. Banyak hal yang nantinya akan membuat saya kembali, yaitu menikmati musik khas yang dimainkan oleh seniman setempat, duduk santai menikmati kopi di kursi pinggir trotoar, menyicipi makanan makanan yang dijual oleh penduduk lokal dan bercengkerama santai dengan kawan. Pokoknya banyak hal yang sangat membuat saya ingin kembali ke Maliborro selain barang barang yang dijual disana sesuai kantong saya. Hahaa.
Malioborro
Belanja di Malioboro
Sementara cukup itu dulu cerita Perjalanan Solo Jogja yang Mengistimewa dari saya, penutup cerita perjalanan ini adalah rombongan kita mampir di Bakpia 145 yang memiliki rasa bakpia jos gandos kotos kotos. Bakpia Bakpia di Bakpia 145 dibandrol dengan harga 35ribu untuk sekotak bakpia kacang hijau yang berisi 20biji, dan 20ribu untuk sekotak bakpia kacang hijau yang berisi 10biji. Rasa dan jumlah bakpia dalam sekotaknya menentukan harga lo, tapi jangan salah, meski harganya hmmmm agak menguras kantong, saya jamin kalian nggak bakal menyesal untuk membelinya, karena rasa yang enduess banget. Sampai sampai dua keponakan saya, si fajar dan si imel aja juga sangat menyukainya.

Bye, sampai ketemu dengan cerita perjalanan saya selanjutnya.

Jumat, 10 Agustus 2018

Argopuro Sayang, Argopuro Malang.!

Argopuro Sayang, Argopuro Malang
Dokumentasi Video Akun Instagram @jaligoeshiking
Argopuro Sayang, Argopuro Malang- Akhir akhir ini, jagad maya digemparkan oleh pemberitaan tentang pembangunan akses jalan di lereng gunung Argopuro. Hal itu menjadi perhatian besar para netizen terutama para pecinta alam. Dan begitupun dengan saya sendiri, banyaknya postingan yang berseliweran di akun media sosial instagram dimana terjadi kontra menyayangkan sikap pemerintah daerah setempat yang berani mengambil kebijakan untuk tetap melanjutkan pembangunan jalan lereng Gunung Argopura  (sampai pada saat informasi itu saya dapat) hingga membuat saya gemas untuk menuliskan unek - unek saya.

Bukankah dengan melakukan pembangunan di lereng gunung seperti hal itu, sangat mengganggu keseimbangan ekosistem? Saya pribadi mungkin belum pernah menginjakkan kaki untuk traking menyusuri akses jalan menuju puncak Argopuro. Namun melihat potensi Gunung Argopuro yang menjadi salah satu gunung yang banyak diminati oleh para penggiat alam, saya ikut kecewa apabila pembangunan Argopuro ini tetap dilanjutkan. Argopuro biarlah menjadi Argopuro dengan segala keistimewaannya. Argopuro memang bukan diperuntukkan untuk disinggahi kendaraan bermesin, karena Argopuro menjadi tempat menepi dikala kita sudah jengah dengan suara hiruk pikuk kendaraan bermesin di dataran rendah. Kemana lagi tempat kita bermain jika di Gunung yang menjadi tempat untuk mencari ketenangan, justru ternodai dengan keramaian pula?

Salah satunya informasi yang saya lansir dari postingan di Instagram oleh akun @jaligoeshiking menerangkan kebengisan jaman canggih teknologi dalam mengekploitasi alam habis habisan dengan rentetan kalimat seperti berikut ini:
Quo Vadis pembangunan Argopuro: Bye-bye jalur trekking terpanjang di Pulau Jawa
Argopuro punya posisi unik di dunia pendakian nusantara: Jalur trekking terpanjang di pulau Jawa (42km+).
Untuk ukuran pulau Jawa yang padat penduduk dan didominasi perkotaan, ini sebuah "prestasi" luar biasa. Sayangnya hal tersebut bakal hilang dengan proyek ambisius yang menebang ratusan pohon dan melebarkan jalan untuk kemudahan akses kendaraan bermotor hingga mata air 1.
.
Berdasarkan konfirmasi dari BBKSDA Jatim, jalan tersebut ditujukan untuk pengangkutan hasil hutan warga, cuma saya skeptis proyek milyaran tersebut "hanya" untuk mengangkut hasil hutan warga, berdasarkan berita di AntaraNews, Pemerintah Kabupaten Situbondo, Jawa Timur, akan segera membangun sarana dan prasarana, termasuk jalan menuju Gunung Argopuro sebagai penunjang wisata alam dan Situs Rengganis.
.
Master plan pembangunan tersebut tidak dibuka untuk publik sehingga para penggiat kegiatan alam bebas hanya menerka-nerka saja dan berasumsi bagaimana sebenarnya proyek tersebut dilaksanakan: akankah dibangun resort dan penginapan seperti desas-desus di kalangan warga? apakah jalan dilebarkan sampai Cikasur atau sampai situs Dewi Rengganis? dan berbagai pertanyaan lain. Ketidakjelasan ini wajar menimbulkan kontroversi karena berdasarkan berita di atas, komunitas pecinta alam tidak dilibatkan dalam sosialisasi melainkan komunitas penggiat sepeda gunung. Mungkin kami-kami yang berjalan kaki ini gak dianggap. Gak di kota gak di pegunungan, kaum pejalan kaki pasti jadi prioritas paling akhir.
.
Kemudahan akses menuju Cikasur pasca pelebaran jalan pun mengundang makin banyak komunitas motor trail atau perorangan dari berbagai daerah yang berminat menjelajahi Cikasur seperti yang saya alami minggu kemarin. Jalur yang cuma satu memaksa saya yang pejalan kaki ini harus minggir mengalah sama deru mesin dan debu dari ban-ban kendaraan bermotor (jumlahnya sekitar 20 motor lebih), di beberapa spot yang sempit, saya dan teman-teman bahkan harus ekstra hati-hati biar gak kesenggol motor.
.
Apakah dibenarkan motor dalam jumlah yang besar masuk ke kawasan inti konservasi Cikasur dalam waktu yang bersamaan? mengingat Cikasur adalah habitat merak, babi hutan, dan ayam hutan yang masih bisa kita jumpai ketika pagi dan sore hari ketika camp di sana. Sempat beredar kabar juga kalau 17 Agustus nanti pendakian bakal ditutup karena ada event motor trail, jadi bisa dibayangkan betapa "meriahnya" Cikasur nanti. Menurut saya ojek warga sekitar tidak masalah karena jumlah dan frekuensinya tidaklah banyak, saya termasuk pengguna ojek juga walau sampai batas makadam saja, pendaki harusnya dilarang menggunakan ojek melebihi pos Mata Air 1 (batas proyek pelebaran jalan)
.
Kalau mau dikembangkan sebagai potensi wisata, sebaiknya mengambil dari positioning Argopuro sebagai jalur trekking terpanjang se-Jawa. Jalur dibenahi dan diperbaiki, kalaupun mau ada jalur motor atau sepeda gunung, sebaiknya dipisah dengan jalur pejalan kaki (kabarnya dari Jember ada jalur motor, kenapa gak dioptimalkan saja tanpa mengkanibal jalur Baderan), marka-marka ditambah karena banyak percabangan yang menyesatkan, fasilitas seperti shelter atau toilet basah dibangun (toilet Cikasur dan Taman hidup yang baru dibangun tidak berfungsi), manajemen pengangkutan sampah dibenahi dengan memanfaatkan warga sekitar sebagai penjaga kawasan
.
Ingat, di Indonesia gak ada yang punya posisi yang unik seperti dataran tinggi Hyang dengan savananya yang sangat luas dan banyak. Kalau hanya meniru pembangunan wisata di tempat-tempat lain, apa istimewanya Argopuro kelak? hanya menambah daftar panjang wilayah konservasi dimanfaatkan sebagai tempat wisata alam yang hanya berfokus pada profit semata dan dieksploitasi habis-habisan
.
Ah tapi sudahlah... ini hanya curhatan hati dan saran saya sebagai orang luar yang sudah empat kali berkunjung ke Argopuro dan begitu mencintai kawasan dataran tinggi Hyang dengan Cikasurnya. Hal-hal kecil yang saya lakukan cuma membereskan sampah di sekitar shelter rubuh dan pohon Cikasur, mematikan api unggun yang masih menyala ditinggal orang, atau memperbaharui dan sharing tracklog GPS jalur pendakian buat bekal teman-teman pendaki yang akan berkunjung kelak biar tidak tersesat. Ketika lintas Baderan-Bermi juga saya selalu menginstruksikan teman-teman agar sampah tidak dibuang di Bermi melainkan di POM bensin terdekat biar tidak memberatkan petugas basecamp mikirin sampah yang menumpuk.Tidak banyak memang, hanya tindakan kecil yang bisa saya lakukan pribadi demi kecintaan saya kepada Argopuro.
Argopuro Sayang, Argopuro Malang mengapa hal semacam ini harus terjadi kepadamu? Sedangkan saya saja belum sempat menjamahmu, bercanda mesra denganmu, dan berbicara menuangkan keluh kesah setelah merasakan nikmatnya trakking menyusuri indah pemandangan yang kau tawarkan. Argopuro Sayang, Argopuro Malang, riwayatmu kini dipertaruhkan. Nasibmu kini dipertanyakan.! Akankah pembangunan yang tidak seharusnya terjadi kepadamu seperti ini tetap dilanjutkan? Kemana lagi tempat para pencari ketenangan bermain, jika di tempat yang tenang saja tetap dekat dengan keramaian? Bagaimana dengan nasib flora fauna endemik melihat habitatnya rusak dan seolah memaksa mereka harus berbaur dengan manusia lalu suara kendaraan bermesin?

Semoga, pembangunan semacam ini bisa lebih dipikirkan lagi sebab dan akibatnya, karena menurut saya hanya menjadi keuntungan beberapa pihak semata, seperti berbicara soal memudahkan wisatawan untuk menikmati keindahan alam Argopuro, sebab memang pada dasarnya Gunung tetaplah Gunung. Menjangkaunya dengan berjalan kaki sudah menjadi Harga Mati. Mempromosikan boleh dan sangat bagus untuk mendompleng perkembangan ekonomi daerah setempat, tetapi tidak dengan cara merusak alam.! Setuju???

Selasa, 07 Agustus 2018

Kenapa Harus Ada KAPAN Diantara Kita?

Kenapa Harus Ada KAPAN Diantara Kita?
Hmmm.. Sadar nggak sih sama perkembangan jaman yang udah melesat jauh dengan berbagai kecanggihan teknologinya.? Tak ayal juga, hal itu bikin mayoritas manusia jaman sekarang berpikir kritis. Saking kritisnya aja sampe ada beberapa orang yang melemparkan pertanyaan sok kritisnya tanpa mempedulikan nasib yang di tanyai. Haha.

Apalagi kalau udah ketemu sama moment dimana berkumpul dengan khalayak banyak, terus si para khalayak itu pola berpikirnya berbeda 180 derajat sama kita, soooo siap siap aja menerima kenyataan dengan bombardiran pertanyaan "Kapan Kapan dan Kapan.?" Wazehhh, ini bukan semata mata artikel curhatan author yes. Tapi karna gemesnya author sama kenyataan hidup yang harus di hadapi akibat pertanyaan kritis itu.

Bayangin aja deh, saat kita lagi kuliah, pas jadi mahasiswa semester tua, skripsi ataupun tesis belom kelar, lalu udah ditanyain: "Kapan Lulus.?". Stop stop saya jelasin dulu, dipikir jadi mahasiswa semester tua itu enak apa ya.? Montang manting ngejar deadline biar segera ACC dan bisa sidang. Itu juga kalau dapat dosen pembimbing yang bisa diajak kompromi dan baiknya seperti malaikat tak bersayap, coba kalau kebetulan dapet rejeki dosen pembimbing sehoror malaikat izrail. Di PHP-in mau bimbingan itu rasanya lebih sakit daripada di PHP-in Gebetan, belom lagi kalau lembar hasil kerjaan kita begadang semalaman di corat coret. Ngenesnya Masyaalloh coy. Tolong jangan sampai tambahin beban dengan pertanyaan kritis yang nggak bermutu kalian. Punya hati kan.?

Giliran skripsi kelar, sidang beres, 6 bulan diem di rumah karna nunggu prosesi wisuda dan ijazah keluar,  udah dapat pertanyaan super kritis lagi: "Kapan kerja.? Bukannya udah lulus ya.?"

Udah, sampai segini paham.? Saya yakin banyak diantara riders yang juga mengalami hal seperti ini. Namanya juga hidup, Tuhan yang nentuin, kita yang jalanin dan orang lain yang nyinyirin. Good.! Cemerlang banget ini otak saya buat mikir beginian. Haha. Pasti pengalaman ya.? Iya pengalaman jadi korban kekritisan para manusia jaman now.

Gasss teruss thor, mumpung isi otak cemerlang. Cocok kayaknya makanan yang dibuat emak saya hari ini. Lanjut sama pertanyaan kritis yang bersenjata KAPAN lagi. Ehmmm. Udah lulus yaa, udah dapat kerja juga, eeeeee masih aja yang usilnya nggak ketulungan nekat tanya: "Kapan Nikah.? Udah kerja lo. Nungguin apa lagi.? Dsb". It's oke, saya single fighter, saya kuat saya tangguh. Haha. BTW emang pertanyaan begituan penting ya buat ditanyain.? Sekalian aja dah tanyain "Kapan Indonesia hujan salju.?" Sama sama absurd kan pertanyaannya.?

Semua orang juga pengen nikah kaliiii pak buk, mbak mas, tapi nggak perlu lah ngejar ngejar dengan pertanyaan sehoror Kapan Nikah, yang kesannya pertanyaan itu keluar dari kerak neraka. Tidak semua pertanyaan yang kalian tanyakan itu "Nggak Menyakiti" orang lain lo. Saya tau kalian semua kritis, jadi tolong kekritisannya dikondisikan. Ohhhh, maksudnya becanda.? Becanda yaaa.? Hmmmm. Lalu hukumnya halal gitu becanda tapi melukai perasaan orang lain. Yaa kali orangnya slengek'an kayak saya begini, adem adem aja meski digempur dengan seribu pertanyaan bertajuk Kapan.! Coba kalau orang yang kalian tanya pribadinya pemikir keras, bentar bentar galau, cuma gegara dengerin kekritisan kalian yang sekali lagi Nggak bermutu banget. Ehh emang saya adem adem aja.? Nyatanya saya juga gemes sendiri, sampai akhirnya menelurkan gagasan absurd begini. Hahaa.

Oke. Lanjut lagi. Setelah melewati fase penantian jodoh, akhirnya pernikahanpun terjadi. Udah nikah dapat 6 bulan, belum ada tanda tanda hamil. Mulai lagi nih nyinyiran bertajuk Kapan dari orang orang yang kritisnya luar biasa. "Kapan punya anak.? Jangan ditunda tunda lo. Dsb!". Mungkin sebagai single fighter saya belum bisa memahami bagaimana rasanya mendapat pertanyaan ini ya. Yang pasti rasa pedih akibat pertanyaan bertajuk KAPAN ini hampir hampir mirip lah. Sumpah demi apapun, menurut saya pertanyaan bertajuk KAPAN dalam situasi yang seperti ini sangat sensitif sekali untuk dikeluarkan. Karna hal itu sangat berhubungan dengan privasi orang yang ditanyai. Jadi plisss sekali lagi, kalau masih punya hati, lebih baik nggak perlu tanya Kapan Punya Anak kalau udah tau itu pasangan belum punya anak. Nanti juga kalau mereka punya anak, pasti di posting di medsos mereka, dan berita itupun akan sampai ke mata para nyinyirers.
Kenapa Harus Ada KAPAN Diantara Kita?
Kenapa sih harus ada "KAPAN" diantara kita? Sering kan denger pertanyaan keramat itu? Adaa aja topik topik yang di kenakan sama pertanyaan Kapan. Dan pastinya kalau pertanyaan bertajuk kapan seperti diatas saya tuliskan semua, tentunya masih banyak lagi model pertanyaan pertanyaan yang sama. Kadang saya juga heran, hobby banget mereka ngurusin kehidupan orang lain. Mungkin niatnya mau mengingatkan, tapi cara mengingatkannya itu yang menurut saya keliru besar. Kita memang wajib mengingatkan antar sesama manusia, namun yang perlu diketahui bahwa tidak semua kalimat yang diutarakan dengan tujuan mengingatkan itu baik dampaknya bagi yang diingatkan. Jadi sebelum mau mengingatkan seseorang, lebih baik di saring lagi kalimat mana yang pas dan tidak pas untuk di utarakan.

Punya niat untuk mengingatkan orang itu baik kok, asal jangan sampai niat baik itu ternodai karena orang yang kalian ingatkan justru terluka hatinya. Tidak semua hal baik menurut kita, baik juga menurut orang lain. Setiap orangpun memiliki prinsip yang berbeda, tanpa harus diingatkan dengan penekanan penekanan pertanyaan bertajuk KAPAN, tentunya seseorang itupun tahu mana goal yang harus dicapai dalam hidupnya. Punya Tuhan kan.? Percaya sama Tuhan kan.? Kalau punya dan percaya, maka tidak perlu kita usil dengan hidup seseorang dan melemparkan pertanyaan kurang bermutu. Alih alih mendoakan dengan kalimat memotivasi sekaligus, itu justru lebih berkelas daripada hanya sekedar pertanyaan KAPAN.!

Segala sesuatu yang terjadi di muka bumi sudah diatur sedemikian rupa oleh sebaik-baik pengatur. Tinggal kita menikmati proses untuk berikhtiar (berdoa dan berusaha) tanpa harus terlalu berpaku pada hasil. Kita pasrahkan hasilnya kepada sebaik-baik pengatur. Karna sebetulnya, PROSES itu yang menjadi parameter dalam hidup.! Dan kalem aja, kalian tidak perlu repot-repot menanyakan tentang hasil dari proses yang dilakukan seseorang melalui pertanyaan KAPAN KAPAN dan KAPAN.!
Kenapa Harus Ada KAPAN Diantara Kita?
Kalau saya pribadi, ketika mendapat lemparan pertanyaan bertajuk Kapan, saya hanya tersenyum sambil menjawab: "DOAIN SEGERA YAA.!" Baik banget kan saya jadi orang? Iyalah saya baik, Kalau saya jahat pasti sudah gantian tak lempar pertanyaan bertajuk Kapan juga, misalnya: "Kapan Sampean Mati?". Sama sama absurd nya bukan? Hahaha.

Plisss, Jangan Ada Kapan Diantara Kita!

Jumat, 03 Agustus 2018

Catatan Singkat Kisah Hidup Penulis (Blog Tri Wahyuni)

Secercah Sinar harapan Untuk Kesayangan (Dia Si Korban Brocken Home)
Masa kecil dan pra-remajanya
Keluarga ini merupakan salah satu potret keluarga sederhana dari sekian banyak keluarga yang ada di Indonesia. Keluarga kecil yang terdiri dari sepasang suami istri yang mempunyai 3 orang anak, 2 menantu, dan tiga cucu (1 laki-laki, 2 perempuan). Dan saya adalah anak ketiga perempuan satu-satunya dari 3 orang anak yang dilahirkan oleh sepasang suami istri tersebut.

Cerita ini saya awali dari kisah kedua sodara laki-laki saya. Kedua sodara laki-laki saya menikah bisa dibilang di usia yang begitu belia dan tanpa pemahaman atau bekal yang kuat untuk mengarungi bahtera rumah tangga. Kakak saya yang pertama, pendidikannya sekolah menengah pertama yang tidak sampai tamat, sedangkan kakak kedua saya pendidikannya mencapai sekolah menengah atas. Mungkin pendidikan juga menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi tata cara mereka dalam membangun keharmonisan rumah tangga.

Fokus yang akan saya ceritakan disini adalah kakak pertama saya dan kehidupannya. Kakak pertama saya menikah di usia sekitar 20 tahun, bisa dibilang usia yang sangat belum ideal bagi seorang pria untuk mengambil langkah menikah pada masa itu ataupun pada masa sekarang.  Jika dibandingkan dengan saya, di usia itu saya masih sibuk-sibuknya mengejar gelar Sarjana Pendidikan. Dan ternyata benar, tidak berlangsung lama, setelah kelahiran anak pertamanya, dia dan istrinya mulai merasakan ketidakcocokan. Istrinya pun memutuskan mengambil langkah untuk mengais rezeki di Negara orang, atau yang kita kenal dengan TKW. Tepat pada saat itu anaknya masih berusia 2 tahun. Selepas kepergian istrinya, kakak saya mengalami cobaan yang bertubi-tubi (kecelakaan lalulintas dan kecelakaan dalam bekerja), dari hal itu membuat saya serta kedua orangtua saya bertanggung jawab penuh mengasuh anaknya.
 Baca Juga : Menikah itu Didasari Rencana, Bukan Mendasari Bencana.
Selang beberapa tahun, hari demi hari, bulan demi bulan, istrinya tidak pernah memberi kabar sampai anaknya masuk ke Sekolah Dasar. Akhirnya, keputusan yang paling berat terjadi, kakak saya memutuskan bercerai dengan istrinya, dan meninggalkan anak yang masih usia dasar. Diusia sekecil itu yang dia tau hanyalah kebencian terhadap ibunya, kebencian yang tertanam hingga remaja, sekalipun saya dan kedua orang tua meyakinkan dia untuk tidak membenci ibunya. Yang anak sekecil itu tau hanyalah kenyataan yang terjadi, bahwa ibunya pergi, ibunya tidak menyayangi dia, pemikiran semacam itu dipegang dia dan melekat dalam dirinya.

Lalu ketika si anak menginjak kelas 4 SD, giliran kakak saya yang mengambil langkah untuk merantau di pulau seberang. Kira-kira pada saat itu saya baru saja lulus SMA, sejak saat itulah hak asuh keponakan beralih ke saya sepenuhnya. Mulai dari situ tekad yang ada di hati saya adalah bagaimana cara mendidik keponakan saya supaya menjadi laki-laki sukses! Hal itu juga yang membuat saya semangat untuk bekerja, semangat belajar, semangat mendidik, karena saya sadar keponakan saya menjadi tanggung jawab besar saya, Dunia Akhirat.

Disaat remaja seusia saya saat itu bergantung meminta uang dan menjadi penikmat harta dari keluarga mereka, bekerja untuk memenuhi kebutuhan mereka sendiri, disaat itulah saya dengan bangganya bisa membantu menanggung kebutuhan hidup keponakan saya 8 tahun terakhir ini. Bukan hanya penghasilan yang harus saya bagi dengan dia, sayapun harus membagi sebagian waktu saya, mencurahkan kasih sayang setulusnya, dan melakukan apapun untuk membuat dia bahagia. Begitu saya rasakan kerasnya hidup, menjadi seseorang yang bisa dibilang single fighter (pejuang tunggal yang berperan dengan berbagai profesi) demi kehidupan keponakan saya supaya tidak kekurangan satu apapun.
Secercah Sinar harapan Untuk Kesayangan (Dia Si Korban Brocken Home)
Bisa saja dibayangkan, bagaimana saya menjadi temannya dan terjun pada setiap dunia yang dia geluti supaya nakalnya tetap terkendali?
Bisa dibayangkan bagaimana saya menjadi ibu, menasehatinya saat saya harus berurusan dengan guru konseling dan walikelasnya?
Bisa dibayangkan bagaimana saya sebagai kakak dengan cekatan memilihkan baju, celana, gel rambut, minyak wangi, dan facial wash yang cocok untuk dia?
Bisa dibayangkan bagaimana saya menjadi ayah yang siap berdamai dan mendukung dari belakang saat dia memutuskan untuk mengikuti Pencak Silat pada organisasi tertentu?
Bisa dibayangkan bagaimana saya menjadi perawat, merawat luka saat dia jatuh dan dagunya harus dijahit, menyiapkan obat yang harus diminum ketika dia menderita demam/flu, menguatkan dia di dalam mobile ambulance saat dia mengalami kecelakaan, dan menungguinya sendirian semalam suntuk di Rumah Sakit?
Bisa dibayangkan bagaimana saya menjadi seorang tante dengan bakat koki saat harus menyiapkan makanan kesukaannya?
Saya merasa tidak ada yang tidak bisa saya lakukan untuk membahagiakannya?
Bahkan saya bekerja keras untuk saya sendiri dan untuk dia, demi terpenuhi semua kebutuhannya.

Mungkin seperti itulah yang orang tua saya dan orang tua kita semua rasakan untuk memberi yang terbaik kepada kita selaku buah hatinya.
Saya selalu bersikeras meminta dia untuk belajar mengaji, sholat, harus mendapat nilai yang bagus, berbicara sopan, berbuat baik kepada siapapun, tidak membenci orang (bahkan ibunya). Saya selalu cerewet membebani dia dengan banyak aturan. Menyuruh dia membantu apapun yang saya kerjakan, karena apa? Pada saatnya nanti dia akan tahu, mengapa saya sekeras ini dalam mendidik dan mengasuhnya.

Ketika dia juga membaca tulisan ini, saya ingin mengingatkan kepadanya bahwa:
Ada seorang wanita yang berjuang keras dibelakangmu dan selalu mendukungmu untuk menjadi laki-laki sukses, supaya tidak lagi tercipta bayangan masalalumu di masadepanmu.!
Saya tidak tahu sampai kapan saya akan selalu ada buat dia, tetapi satu hal yang pasti dia adalah keberuntungan saya selama ini, dia adalah salah satu motivasi saya untuk berkarya, untuk berkarir, terus dan terus, saya ingin menjadi saksi perjalanan dia menuju kesuksesannya. Sayapun berharap, dengan hidup yang penuh warna-warni seperti ini, menjadikan dia laki-laki yang mandiri, bertanggung jawab atas hidup yang dia emban, tangguh menghadapi kerasnya hidup, dan tetap menjadi baik seperti do’a yang selalu saya panjatkan kepada Sang Maha Penciptanya.

Kakak Selalu Menyayangi dan Mendoakanmu..

Buat anak-anak korban Brocken Home di luar sana: Jangan berkecil hati, sedih, dan putus asa, lalu menjerumuskan diri terjun bebas pada dunia kenakalan remaja. Hidupmu terlalu indah dan sempurna untuk kalian nodai dengan berbagai kegiatan negatif. Buka mata kalian, di luar sana ada banyak bahkan ribuan anak yang mempunyai nasib tragis lebih dari kalian. Ayo bangkit, tunjukkan kepada siapa saja yang membuat kalian sakit, bahwa balas dendam terbaik adalah menjadi sukses dengan mengasah bakat dan mengembangkan potensi diri terbaik yang kalian miliki.! Hal itu lebih elegan, daripada bangga dengan kenakalan yang merusak hidup kalian.!


Catatan Tambahan: 
Artikel ini saya tulis bukan bermaksud untuk mengumbar aib keluarga atau bahkan memamerkan perbuatan yang saya lakukan. Saya hanya menjalankan kewajiban saya untuk menyayangi keponakan saya dengan melakukan apa yang perlu saya lakukan.
Berkaitan dengan kisah yang seharusnya menjadi konsumsi pribadi tetapi justru saya tulis di blog saya, hal ini saya lakukan sebagai bahan pembelajaran kita semua. Mengingat perceraian di jaman sekarang bukanlah menjadi hal yang tabu lagi. 
Semoga dengan adanya kisah-kisah seperti ini, membuat kita benar-benar memilih pasangan yang tepat untuk menggenapkan separuh agama, satu untuk seumur hidup. Karena apabila kita salah memilih, bukan hanya kita saja yang rugi, tetapi anak kita yang dasarnya adalah para generasi penerus bangsa.
Terimakasih, mari berpikir bijak.!